lead nurturing adalah proses komunikasi prospek melalui WhatsApp email dan CRM
Home » Blog » Lead Nurturing: Pengertian, Cara Kerja, dan Mengapa Bisnis Perlu Melakukannya

Lead Nurturing: Pengertian, Cara Kerja, dan Mengapa Bisnis Perlu Melakukannya

Table of Contents

Memiliki database prospek memang penting. Namun, tanpa tindak lanjut terstruktur, prospek dari formulir, WhatsApp, atau iklan kurang optimal untuk bisa berujung pembelian.

Lead nurturing adalah salah satu solusi untuk itu. Strategi komunikasi dengan prospek diharapkan mampu membimbing mereka dari sekedar tertarik menjadi siap membeli produk.

Ingin tahu apa itu lead nurturing dan tahapan untuk menjalankannya? Simak selengkapnya, yuk.

Apa Itu Lead Nurturing?

apa itu lead nurturing dan perbedaannya dengan lead generation

Lead nurturing adalah cara Anda membangun hubungan baik dengan calon pembeli agar mereka yang awalnya hanya tertarik pada produk, berubah menjadi siap bertransaksi.

Secara harfiah, lead berarti calon pembeli potensial, sedangkan nurturing berarti merawat atau membina. Jadi, lead nurturing adalah semua upaya untuk “merawat” ketertarikan calon pembeli.

Anda ibarat membangun sebuah jembatan bagi seseorang baru pertama kali mengenal produk Anda,. Lalu mengantarkan mereka ke fase transaksi.

Proses ini sendiri tidak cukup dilakukan lewat satu kali follow-up.

Ada yang mengawalinya dengan informasi promosi dari WhatsApp, lalu dilanjutkan dengan edukasi produk, atau reminder adanya promosi diskon sesuai dengan kebutuhan mereka.

Jangan salah, lead nurturing dalam bisnis tidak berarti prospek akan langsung membeli produk setelah melihat iklan, membaca artikel, atau lainnya. Prosesnya bisa cukup panjang.

Alasannya, prospek umumnya masih dalam fase membandingkan produk, menunggu dana, berdiskusi dengan tim, atau baru memahami masalah yang ingin diselesaikan.

Jadi, komunikasi yang dibangun harus berkelanjutkan. Itu juga yang membedakan lead nurturing dengan lead generation.

Lead generation berfokus mendatangkan prospek baru dari iklan, upaya SEO, event, referral, atau formulir website. Sementara lead nurturing menjaga hubungan yang dibangun.

Manfaat Lead Nurturing untuk Bisnis

manfaat lead nurturing untuk menjaga prospek dalam pipeline penjualan

Bisnis yang menjalankan lead nurturing dengan baik, akan bisa mendapatkan berbagai manfaat sebagai berikut:

1. Membantu Menjaga Hubungan dengan Prospek

Tidak semua prospek siap membeli saat pertama kali berinteraksi dengan bisnis.Ada yang baru mencari informasi, membandingkan vendor, atau menunggu persetujuan internal.

Lead nurturing menjaga kehadiran bisnis Anda di sepanjang proses tersebut. Prospek tetap mendapatkan informasi berharga tanpa merasa ditekan untuk membeli.

Dengan cara ini, bisnis Anda tidak hanya muncul saat ingin menjual, tetapi juga hadir saat prospek membutuhkan edukasi, arahan, atau pengingat untuk melanjutkan prosesnya.

2. Membuat Follow-Up Lebih Relevan

Mengirim pesan follow-up yang sama ke semua prospek kurang efektif. Prospek dari iklan sebaiknya tidak mendapat pesan seperti mereka yang meminta demo atau bertanya soal harga.

Dengan lead nurturing, pesan bisa disesuaikan dengan asal, minat, kebutuhan, dan tahap pembelian calon pelanggan.

Data seperti produk yang dilihat, formulir, atau pertanyaan bisa membantu tim menciptakan komunikasi yang lebih personal.

Segmentasi prospek menjadi penting di sini. Semakin jelas data pelanggan yang dimiliki, semakin mudah upaya lead nurturing dilakukan.

3. Mengurangi Risiko Lead Hilang

Masalah utama bisnis seringkali bukan pada lead generation, tapi lead nurturing. Banyak bisnis punya banyak prospek, tapi gagal menindaklanjutinya.

Masalah utama biasanya karena data tersebar di berbagai channel. Ada data yang tersimpan di WhatsApp tim sales, email tim marketing, dan lainnya.

Tanpa sistem yang rapi, calon pembeli mudah terlewat karena komunikasi tidak teratur. Tim jadi bingung siapa yang harus dihubungi, kapan waktunya, dan pesan apa yang relevan.

Nah, lead nurturing adalah strategi untuk membantu membuat alur komunikasi lebih konsisten, terutama dengan bantuan sistem yang canggih.

4. Membantu Tim Sales Fokus ke Lead yang Lebih Siap

Tim sales tidak perlu memperlakukan semua lead dengan cara yang sama. Ada prospek yang butuh edukasi, sedang membandingkan pilihan, atau sudah siap berdiskusi.

Melalui proses nurturing, bisnis dapat melakukan kualifikasi lead. Misalnya, memprioritaskan prospek yang membalas pesan, melihat konten, membuka email, atau meminta informasi.

Pendekatan ini membuat kerja sales lebih efektif. Mereka bisa fokus pada lead yang paling dekat dengan penjualan, sementara yang lain tetap mendapat komunikasi relevan.

5. Mendukung Retensi dan Repeat Engagement

Lead nurturing umumnya terjadi pada masa sebelum transaksi penjualan. Namun, bisa juga diterapkan bagi pelanggan lama untuk bisa mendapatkan repeat order (pesanan berikutnya).

Bisnis dapat mengirim edukasi produk, pengingat perpanjangan, info fitur baru, atau kampanye reaktivasi untuk mendukung retensi sepanjang lifecycle pelanggan.

Bagi bisnis dengan siklus pembelian berulang, strategi ini penting agar hubungan tetap terjaga dan pelanggan terus mendapatkan nilai dari layanan Anda.

Tahapan Proses Lead Nurturing

tips lead nurturing yang efektif untuk campaign follow up prospek

Lead nurturing yang efektif bukan dilakukan sembarangan. Ada alur yang bisa diikuti agar setiap interaksi dengan prospek punya tujuan yang jelas.

1. Segmentasi Prospek

Tahapan pertama dalam lead nurturing adalah mengelompokkan prospek. Segmentasi bisa dibuat berdasarkan sumber lead, seperti iklan, website, referral, atau campaign tertentu.

Segmentasi juga bisa dibuat berdasarkan perilaku. Misalnya, apakah prospek melihat halaman harga, bertanya tentang produk, mengunduh panduan, atau meminta jadwal konsultasi.

Jangan gunakan satu pesan untuk semua prospek. Gunakan segmentasi yang jelas untuk mempermudah bisnis menyusun pesan yang pas dengan kebutuhan prospek.

2. Tentukan Tujuan dan Metrik

Setiap campaign wajib memiliki target terukur. Misalnya, Anda mempercepat upaya follow up, lebih banyak prospek yang melihat demo produk, atau mencegah prospek hilang tanpa kabar.

Caranya, sesuaikan metrik dengan saluran yang digunakan. Untuk email, pantau open rate dan click rate. Untuk WhatsApp, perhatikan reply rate atau jumlah percakapan yang berlanjut.

Tanpa metrik yang tepat, Anda tidak akan tahu apakah strategi lead nurturing benar-benar membantu penjualan.

3. Buat Konten yang Sesuai Tahap Prospek

Prospek yang baru mencari tahu tentang produk membutuhkan konten edukatif. Jadi, bagikanlah tips atau panduan singkat, atau penjelasan masalah umum yang mereka hadapi.

Prospek yang sedang membandingkan produk butuh alasan kuat untuk membeli. Jadi, berikan testimoni pelanggan, penjelasan cara kerja, atau keunggulan produk Anda untuk meyakinkan mereka.

Prospek yang sudah siap membeli produk bisa Anda beri undangan konsultasi gratis, simulasi harga, atau ajakan langsung untuk mengobrol lewat WhatsApp dan mencoba produk.

Tahap FunnelKondisi ProspekJenis Konten yang CocokChannel
AwarenessBaru tertarik atau baru mengisi formArtikel edukatif, checklist, tipsEmail, WhatsApp
ConsiderationSudah bertanya atau membandingkan solusiStudi kasus, panduan produk, perbandingan fiturEmail, WhatsApp, chatbot
DecisionSudah menunjukkan minat kuatDemo, konsultasi, penawaran, reminderWhatsApp, telepon, email
RetentionSudah menjadi pelangganOnboarding, edukasi fitur, survey, promo relevanEmail, WhatsApp, SMS

4. Tentukan Channel dan Frekuensi Komunikasi

Setiap channel punya fungsi berbeda jadi bisa dimanfaatkan untuk lead nurturing sesuai kebutuhan dari prospek.

  • WhatsApp cocok untuk follow-up cepat, reminder, dan percakapan personal.
  • Email bisa untuk jenis konten panjang, newsletter, edukasi, dan studi kasus.
  • SMS paling sesuai untuk reminder singkat atau notifikasi mendesak.
  • Telepon bisa digunakan untuk prospek berminat tinggi atau butuh konsultasi langsung.

Jika saat ini bisnis Anda lebih banyak memakai WhatsApp, pahami dulu cara follow-up customer lewat WhatsApp agar bisa mengirim pesan yang baik sesuai tujuan lead nurturing.

Bukan hanya channel, tapi frekuensi pesan juga perlu diperhatikan. Terlalu jarang menghubungi membuat prospek lupa, terlalu sering mengirim pesan bisa mengganggu mereka.

5. Atur Alur Otomasi Berbasis Trigger

Lead nurturing secara manual memang lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali. Namun mengandalkan upaya otomatis tentu jauh lebih efektif.

Sebagai contoh, saat prospek mengisi formulir website, mereka akan otomatis menerima pesan sambutan dengan pesan relevan yang sudah disiapkan.

Tiga hari kemudian, prospek tersebut menerima konten edukatif sesuai interaksi mereka di website. Dan ketika mereka mengklik link tertentu, ada notifikasi untuk tim sales agar melakukan follow-up penjualan secara manual.

Alur seperti ini tentunya lebih memudahkan, bukan?

6. Evaluasi dan Iterasi

Cara melakukan lead nurturing tidak berhenti setelah campaign berjalan. Bisnis perlu mengevaluasi hasilnya secara berkala.

Perhatikan pesan mana yang paling banyak direspons, channel mana yang paling efektif, dan di tahap mana prospek berhenti.

Gunakan data tersebut untuk menyesuaikan konten, frekuensi, segmentasi, atau timing pengiriman pesan.

Nurturing yang baik terus berkembang. Jika satu alur belum menghasilkan respons yang baik, masalahnya bisa ada pada pesan, channel, timing, atau segmentasi yang belum tepat.

Mengapa Bisnis Butuh Sistem untuk Lead Nurturing

sistem CRM dan automation untuk mengelola lead nurturing bisnis

Menjalankan lead nurturing secara manual, yakni lewat catatan di spreadsheet atau ingatan tim sales, bisa berjalan di awal, tapi tidak akan bertahan saat volume prospek bertambah.

Tanpa sistem terpusat, data prospek berserakan. Akibatnya, tim kehilangan jejak riwayat komunikasi dan status lead. Prospek potensial bisa hilang karena terlewat untuk dihubungi.

Jika itu terjadi, sebuah sistem CRM bisa membantu Anda menyatukan data dan riwayat interaksi.

Tak berhenti di situ, sistem automation di dalamnya bisa mengirim pesan berdasarkan trigger tertentu.

Dengan alur ini, follow-up tidak lagi bergantung pada ingatan. Anda jadi bisa memantau campaign flow dan performa komunikasi dari satu dasbor yang terukur.

contoh dashboard CRM atau inbox terpusat yang menampilkan status lead, riwayat percakapan, campaign flow, dan follow-up task

Jika Anda menggunakan WhatsApp, Anda bahkan bisa melakukan integrasi WhatsApp dan CRM. Anda dapat melihat konteks, membagi tugas, dan memantau follow-up secara efisien.

Bahkan, dengan WhatsApp Business API, Anda bisa mengelola komunikasi pelanggan secara profesional dan terukur, dibandingkan percakapan manual dari banyak nomor berbeda.

Channel yang Bisa Digunakan untuk Lead Nurturing

channel lead nurturing melalui email WhatsApp chatbot SMS dan telepon

Lalu, channel apa saja yang bisa dimanfaatkan oleh bisnis dalam menjalankan lead nurturing? Anda bisa melihat table berikut:

ChannelCocok untukCatatan
EmailEdukasi panjang, newsletter, studi kasus, onboarding, penawaran bertahapCocok untuk nurturing yang butuh penjelasan lengkap
WhatsAppFollow-up langsung, reminder, percakapan cepat, konfirmasi minatGunakan secara relevan dan tidak spam
ChatbotRespons awal, FAQ, kualifikasi lead, routing pertanyaanPerlu alur dan konteks yang jelas
SMSReminder singkat, notifikasi penting, fallbackJangan digunakan untuk semua jenis nurturing
TeleponLead yang sudah sangat tertarik atau butuh konsultasiCocok setelah ada sinyal minat yang kuat

Tiap channel punya kelebihannya masing-masing dan bisa disesuaikan dengan sektor bisnis Anda.

E-commerce, misalnya, lebih sering mengandalkan WhatsApp, email, dan SMS untuk pengingat transaksi atau promosi.

Sektor properti, finansial, SaaS, pendidikan, dan kesehatan membutuhkan kombinasi beberapa channel karena proses pengambilan keputusan pelanggan yang lebih panjang.

Namun, menjalankan semuanya secara terpisah kurang efektif membantu bisnis. Itulah kenapa pendekatan omnichannel untuk komunikasi pelanggan akan membuat komunikasi lebih konsisten.

FAQ Mengenai Lead Nurturing

Berikut pertanyaan yang paling sering ditanyakan bisnis tentang lead nurturing.

1. Apa perbedaan lead nurturing dan lead generation?

Lead generation mendatangkan prospek baru sementara lead nurturing menjaga prospek tetap tertarik untuk membeli produk sesuai tahapan pembelian mereka. Keduanya saling melengkapi.

2. Berapa lama proses lead nurturing berlangsung?

Durasi lead nurturing bervariasi tergantung industriya. E-commerce perlu hitungan hari, sementara sektor properti, B2B, finansial, pendidikan, atau kesehatan bisa berbulan-bulan.

Kuncinya adalah konsistensi dan relevansi komunikasi. Proses ini tidak harus cepat, tapi harus memiliki arah yang jelas.

3. Apakah lead nurturing bisa dilakukan tanpa tool khusus?

Bisa, terutama jika jumlah prospek masih sedikit. Untuk puluhan prospek, spreadsheet dan follow-up manual masih bisa berjalan.

Namun, saat volume lead meningkat, sistem CRM dengan automation akan membantu agar follow-up lebih rapi, terukur, dan tidak mudah terlewat.

4. Channel apa yang paling efektif untuk lead nurturing?

Semua channel punya kelebihan masing-masing. WhatsApp cocok untuk komunikasi cepat, email cocok untuk edukasi panjang, SMS cocok untuk reminder singkat, dan telepon cocok untuk lead yang sudah menunjukkan minat kuat.

5. Bagaimana cara mengukur keberhasilan lead nurturing?

Cara termudah adalah melihat respons calon pembeli. Apakah mereka aktif membalas pesan? Gunakan reply rate atau open rate sebagai tolok ukur.

Selanjutnya, perhatikan kesediaan mereka untuk melangkah lebih jauh, seperti meminta konsultasi atau daftar harga.

Terakhir, pantau durasi dari pertanyaan hingga transfer. Jika komunikasi Anda membuat mereka lebih cepat dan yakin membeli, strategi Anda berhasil.

Kesimpulan

Tak ada bisnis yang rela kehilangan prospek yang sudah didapatkan. Namun, mereka sering tak memiliki proses untuk membuat calon pembeli melanjutkan ke proses transaksi.

Lead nurturing adalah jawaban untuk itu. Namun, bukan tentang mengirim sebanyak mungkin pesan ke prospek, tapi membangun komunikasi yang tepat dengan mereka di berbagai channel.

Proses lead nurturing akan mudah jika bisnis Anda memiliki sistem yang mendukung. Nah, Jatis Mobile menawarkan solusi komunikasi dan otomatisasi yang bisa membantu bisnis mengelola nurturing dengan baik lewat WhatsApp, email, dan SMS.

Tertarik mencobanya?