Featured image untuk artikel Open Rate Broadcast WhatsApp
Home » Blog » Open Rate Broadcast WhatsApp: Rumus, Faktor, dan Cara Meningkatkannya

Open Rate Broadcast WhatsApp: Rumus, Faktor, dan Cara Meningkatkannya

Table of Contents

Sudah berhasil kirim broadcast WA promosi produk? Bagus. Pertanyaannya, sudah berapa banyak pelanggan yang membuka pesan Anda? Open rate broadcast WhatsApp itu penting, lho.

Jika pelanggan tidak membaca penawaran Anda, bisa-bisa upaya promosi jadi sia-sia dan Anda gagal meraih target peningkatan penjualan.

Nah, di artikel ini, kami akan jelaskan apa saja faktor yang mempengaruhinya, dan bagaimana cara meningkatkan open rate WhatsApp broadcast. Yuk, simak!

Apa Itu Open Rate Broadcast WhatsApp?

Ruang obrolan di aplikasi WhatsApp
Sumber: depositphotos

Open rate WhatsApp adalah persentase penerima yang membuka pesan dibandingkan dengan jumlah broadcast yang berhasil terkirim.

Metrik ini menunjukkan tingkat keterbukaan pesan, sehingga tim marketing bisa mengetahui apakah campaign benar-benar menarik perhatian pelanggan, bukan sekadar berhasil dikirim.

Untuk memahami metrik ini secara objektif, bisnis perlu membedakan delivery rate vs open rate.

  • Delivery rate mengukur jumlah pesan yang berhasil masuk ke perangkat penerima. Status ini ditandai dengan centang dua abu-abu.
  • Open rate mengukur jumlah pesan yang sudah dibaca oleh penerima. Indikatornya adalah centang dua biru, selama fitur tanda baca diaktifkan.

Secara umum, open rate broadcast WhatsApp dihitung menggunakan rumus berikut:

Rumus open rate broadcast WhatsApp

Sebagai contoh, Anda mengirim broadcast ke 1.000 pelanggan dan seluruh pesan berhasil terkirim. Dari jumlah tersebut, 750 pelanggan membuka pesan yang diterima.

Artinya, perhitungan open rate-nya adalah:

(750 ÷ 1.000) × 100% = 75%

Angka tersebut menunjukkan bahwa 75% penerima telah membaca broadcast yang Anda kirim.

Namun, kemudahan dalam menarik data angka ini sangat bergantung pada platform yang digunakan:

  • WhatsApp Biasa (Personal / Business App): Data kumulatif tersebut tidak tersedia otomatis sehingga Anda harus mengecek status keterbacaan setiap pesan secara manual.
  • WhatsApp Business API: Memungkinkan data campaign dipantau melalui dashboard yang lebih terstruktur sehingga proses evaluasi menjadi jauh lebih praktis.

Faktor yang Mempengaruhi Open Rate Broadcast WhatsApp

Open rate broadcast WhatsApp dipengaruhi banyak faktor. Kenali faktor-faktor ini sebelum mengevaluasi campaign Anda:

Waktu Pengiriman Broadcast

Pebisnis sedang membaca chat di jalan
Sumber: depositphotos

Tidak semua pelanggan membuka WA di jam yang sama. Broadcast yang dikirim saat penerima sibuk atau di luar jam aktif lebih mudah tenggelam di antara notifikasi lain. Maka, peluang pesannya dibuka jadi lebih kecil.

Daripada mengandalkan jam kirim yang sama untuk setiap campaign, pelajari waktu terbaik mengirim broadcast WhatsApp berdasarkan kebiasaan audiens Anda.

Sebagai contoh, audiens bisnis atau perusahaan umumnya lebih mudah dijangkau saat jam kerja. Sementara pelanggan secara umum justru lebih aktif sore hingga malam hari.

Kualitas dan Relevansi Isi Pesan

Beberapa detik pertama menentukan pelanggan akan membuka pesan broadcast yang diterima atau mengabaikannya. Baris pembuka di notifikasi menjadi kesan pertama sebelum isi broadcast dibaca.

Saat menyusun template broadcast WhatsApp, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Hindari kalimat pembuka yang terlalu generik atau langsung menawarkan promo.
  • Gunakan kalimat awal yang relevan dengan kebutuhan atau minat pelanggan.
  • Personalisasikan isi pesan, misalnya dengan menyebut nama pelanggan atau menyesuaikan penawaran berdasarkan riwayat interaksi.
  • Lakukan A/B testing pada beberapa variasi kalimat pembuka untuk mengetahui mana yang menghasilkan open rate lebih tinggi.

Frekuensi Broadcast

Fitur blokir di aplikasi WA
Sumber: depositphotos

Mengirim broadcast setiap hari belum tentu membuat pelanggan semakin tertarik. Sebaliknya, mereka bisa mulai mengabaikan pesan, membisukan notifikasi, bahkan memblokir nomor bisnis Anda.

Di sisi lain, jeda pengiriman yang terlalu panjang juga kurang ideal karena pelanggan dapat melupakan brand Anda.

Jadi, temukan frekuensi yang paling sesuai melalui evaluasi performa campaign secara berkala, bukan berdasarkan perkiraan semata.

Kualitas Database Kontak

Open rate tidak hanya dipengaruhi oleh isi pesan, tetapi juga oleh siapa yang menerima pesan tersebut.

Database yang besar belum tentu menghasilkan performa lebih baik apabila dipenuhi kontak yang tidak lagi aktif atau tidak sesuai dengan target promosi.

Jadi, pastikan daftar penerima berasal dari pelanggan yang memang memberikan opt-in kontak untuk menerima komunikasi dari bisnis Anda.

Selain membantu meningkatkan peluang pesan dibuka, cara ini juga menjaga kualitas database tetap relevan untuk campaign berikutnya.

Sender Quality Score

Bagi pengguna WhatsApp Business API, ada faktor lain yang turut mempengaruhi performa campaign, yaitu sender quality score. Penilaian ini mencerminkan kualitas pengiriman pesan dari akun bisnis Anda.

Nilainya akan turun ketika banyak penerima memblokir nomor bisnis, melaporkan pesan sebagai spam, atau jarang berinteraksi dengan broadcast yang dikirim.

Apabila kualitas akun terus menurun, WhatsApp bisa saja membatasi batas pengiriman nomor bisnis Anda sehingga jangkauan campaign berikutnya ikut terdampak.

Kenapa Open Rate WhatsApp Broadcast Lebih Tinggi dari Channel Lain?

Chat dari akun official WhatsApp
Sumber: depositphotos

Banyak bisnis mulai mengalihkan strategi komunikasi ke WhatsApp karena peluang pesannya dibaca memang relatif lebih tinggi dibandingkan channel digital lainnya.

Namun, benchmark open rate WhatsApp sebaiknya dipahami sebagai gambaran potensi platform, bukan angka yang otomatis akan dicapai setiap campaign.

Secara umum, sekitar 88% pesan WhatsApp dibuka dalam lima menit pertama setelah diterima. Di berbagai industri, open rate juga dapat mencapai 98–99%, jauh melampaui email yang ada di kisaran 20–21%. 

Meski demikian, performa setiap bisnis tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor yang telah dibahas di bagian sebelumnya.

Jenis pesan yang dikirim juga mempengaruhi tingkat keterbukaan. Secara umum, pola yang terlihat adalah:

  • Pesan transaksional, seperti OTP, konfirmasi pesanan, atau pengingat pembayaran, cenderung memiliki open rate lebih tinggi karena memang dinantikan oleh penerima.
  • Pesan promosi menunjukkan hasil yang lebih bervariasi karena sangat bergantung pada segmentasi, waktu pengiriman, dan kualitas kontennya.
  • Broadcast massal tanpa personalisasi tetap berisiko diabaikan, meskipun dikirim melalui WhatsApp.

WhatsApp juga menjadi salah satu aplikasi yang paling aktif digunakan masyarakat Indonesia, dengan rata-rata waktu penggunaan sekitar 1 jam 52 menit per hari.

Tingginya intensitas penggunaan ini membuka peluang yang besar bagi bisnis untuk menjangkau pelanggan.

Di saat yang sama, banyaknya notifikasi yang masuk membuat kualitas pesan menjadi penentu utama apakah broadcast Anda akan dibuka atau dilewatkan begitu saja.

Cara Meningkatkan Open Rate Broadcast WhatsApp

Setelah mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi open rate, saatnya menerapkannya strategi untuk meningkatkan peluang pesan dibuka oleh penerima broadcast

1. Lakukan Segmentasi Sebelum Mengirim Broadcast

Puzzle pie chart menggambarkan segmentasi kontak WhatsApp
Sumber: depositphotos

Mulailah dengan segmentasi kontak WhatsApp agar setiap pelanggan menerima informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Agar hasilnya lebih optimal, Anda dapat:

  1. Kelompokkan pelanggan berdasarkan riwayat transaksi, minat produk, atau status loyalitas.
  2. Pisahkan pelanggan baru, pelanggan aktif, dan pelanggan yang sudah lama tidak berinteraksi.
  3. Sesuaikan isi broadcast untuk setiap segmen sehingga pesan terasa lebih relevan bagi penerimanya.

2. Optimalkan Baris Pembuka Pesan

Sebelum broadcast dikirim, baca kembali kalimat pertama tanpa membuka isi chat. Apakah manfaat utamanya sudah langsung terlihat?

Coba terapkan beberapa cara berikut agar pelanggan terdorong membuka pesan Anda.

  • Letakkan manfaat utama pada kalimat pertama.
  • Hindari sapaan panjang seperti “Halo Bapak/Ibu, kami dari…”.
  • Gunakan kalimat pembuka yang memancing rasa ingin tahu atau menunjukkan nilai yang akan diperoleh pelanggan.
  • Uji beberapa variasi pembuka untuk mengetahui mana yang menghasilkan performa terbaik.

3. Kirim pada Waktu Audiens Paling Aktif

Pemilik online shop sedang menggunakan laptop untuk bekerja
Sumber: depositphotos

Tidak ada satu jam kirim yang selalu efektif untuk semua bisnis. Daripada mengandalkan asumsi, temukan pola berdasarkan hasil campaign Anda sendiri.

Anda bisa memulainya dengan:

  1. Mengirim broadcast pada beberapa waktu berbeda kepada segmen yang memiliki karakteristik serupa.
  2. Membandingkan hasil setiap pengiriman untuk menemukan pola yang paling efektif.
  3. Menggunakan hasil tersebut sebagai acuan campaign berikutnya.

4. Jaga Kualitas Database Secara Berkala

Apakah semakin banyak kontak berarti open rate akan semakin tinggi? Belum tentu. Yang lebih penting adalah memastikan daftar penerima tetap relevan. 

Evaluasi database secara berkala agar broadcast tidak terus dikirim kepada kontak yang sudah tidak aktif. Fokuskan evaluasi pada hal-hal berikut:

  1. Identifikasi kontak yang tidak pernah berinteraksi dalam beberapa bulan terakhir.
  2. Pindahkan kontak tersebut ke segmen khusus atau keluarkan dari daftar broadcast utama.
  3. Perbarui data pelanggan secara berkala agar database tetap relevan.

5. Buat Pesan Singkat dengan CTA yang Jelas

Akun WA diblokir karena spam

Pelanggan biasanya memutuskan dalam hitungan detik apakah sebuah chat layak dibaca lebih lanjut.

Manfaatkan beberapa baris pertama untuk menyampaikan manfaat yang jelas, membangun rasa penasaran, atau menunjukkan urgensi tanpa terdengar seperti spam.

Saat menyusun broadcast, pastikan pesan Anda:

  1. Fokus pada satu tujuan, seperti membagikan promo, mengenalkan produk baru, atau mengajak pelanggan melakukan pembelian.
  2. Menggunakan bahasa yang ringkas dan mudah dipahami.
  3. Ditutup dengan CTA yang jelas, misalnya mengunjungi katalog, melakukan pemesanan, atau membalas chat.
  4. Memanfaatkan gambar, video singkat, atau tombol interaktif jika memang mendukung isi pesan.

Sebagai gambaran, berikut contoh kalimat pembuka yang lebih menarik perhatian:

  • “Diskon 30% hanya berlaku sampai malam ini!”
  • “Ada penawaran khusus yang kami siapkan untuk Anda.”
  • “Produk favorit Anda sudah tersedia kembali!”
  • “Jangan lewatkan promo eksklusif untuk pelanggan setia hari ini.”

6. Pantau Performa Menggunakan Data yang Tepat

Status pesan sudah dibaca pada aplikasi WhatsApp biasa belum memberikan gambaran performa campaign secara menyeluruh. 

Untuk kebutuhan bisnis, gunakan WhatsApp Business Analytics untuk memantau metrik seperti delivery rate, read rate, hingga response rate dalam satu dashboard.

Dengan data tersebut, Anda dapat lebih mudah menemukan bagian campaign yang perlu dioptimalkan.

7. Hubungkan Open Rate dengan Hasil Bisnis

Pemilik bisnis sedang menganalisis business chart

Open rate sudah tinggi, tetapi penjualan belum meningkat? Itu berarti masih ada metrik lain yang perlu dievaluasi.

Selain melihat berapa banyak pelanggan yang membuka pesan, periksa juga apakah mereka:

  • Klik tautan yang dibagikan.
  • Membalas chat.
  • Melakukan pembelian atau tindakan yang diharapkan.

Setelah itu, kaitkan data tersebut dengan proses tracking ROI WhatsApp untuk melihat campaign mana yang benar-benar berkontribusi terhadap penjualan.

FAQ Seputar Open Rate Broadcast WhatsApp

Berikut beberapa hal yang sering ditanyakan pemilik bisnis saat mulai mengukur dan mengevaluasi open rate broadcast WhatsApp.

Berapa open rate WhatsApp broadcast yang dianggap bagus?

Tidak ada angka baku untuk semua bisnis. Open rate broadcast WhatsApp bisa mencapai 90–98%, tapi hasil tiap campaign tergantung kualitas database, relevansi pesan, dan frekuensi pengiriman.

Pesan transaksional biasanya memperoleh open rate lebih tinggi dibandingkan broadcast promosi. Yang terpenting, usahakan performa campaign terus meningkat dari waktu ke waktu.

Apakah WhatsApp biasa bisa melacak open rate broadcast?

Bisa, tetapi sangat terbatas. WhatsApp Business App hanya menampilkan status baca melalui centang dua biru pada setiap kontak, bukan rekapitulasi seluruh campaign.

Untuk memantau metrik seperti delivered rate, read rate, dan response rate secara terpusat, Anda memerlukan WhatsApp Business API yang dilengkapi dashboard analytics.

Kenapa open rate saya turun padahal saya kirim ke kontak yang sama?

Penurunan open rate dapat terjadi karena pelanggan terlalu sering menerima broadcast, isi pesan kurang relevan, atau nomor bisnis diblokir oleh sebagian penerima.

Pada WhatsApp Business API, penurunan performa yang berkelanjutan juga dapat memengaruhi sender quality score, sehingga jangkauan campaign berikutnya ikut terdampak.

Apakah open rate WhatsApp selalu lebih tinggi dari email?

Benar. Open rate email biasanya 20–30% dan ini sesuai dengan fungsi dari channelnya. Jadi, jangan hanya berpatokan pada besarnya open rate di dua channel berbeda.

WhatsApp lebih cocok untuk pesan singkat, personal, dan mendesak, sementara email lebih sesuai untuk newsletter, dokumen, atau informasi yang lebih panjang. 

Optimalkan Performa Broadcast WhatsApp Anda Mulai Sekarang!

Open rate broadcast WhatsApp adalah salah satu metrik penting yang terkait dengan efektivitas promosi. Broadcast terkirim itu penting dan status centang dua juga tak kalah penting.

Pun demikian, open rate yang tinggi tanpa disertai dengan tingkat penjualan yang meningkat, tentu berpengaruh pada kesuksesan campaign.

Itulah kenapa, layanan seperti WhatsApp Business API dari Jatis Mobile bisa menjadi pertimbangan untuk  membantu Anda  memantau delivery rate, read rate, hingga response rate dengan mudah.

Penasaran bagaimana solusi ini membantu mengoptimalkan performa broadcast bisnis Anda?

WhatsApp API resmi dari Jatis Mobile