Featured image untuk artikel Customer Touchpoint
Home » Blog » Apa Itu Customer Touchpoint? Contoh dan Cara Mengelolanya

Apa Itu Customer Touchpoint? Contoh dan Cara Mengelolanya

Table of Contents

Customer touchpoint adalah rangkaian titik interaksi yang membentuk pengalaman pelanggan saat berhubungan dengan bisnis Anda.

Tanpa disadari, pengalaman pada setiap titik tersebut dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk melanjutkan pembelian.

Agar semakin memahami apa itu touch point, artikel ini akan membahas contoh penerapan, manfaat, dan strategi pengelolaannya.

Apa Itu Customer Touchpoint?

Seseorang mengamati puzzle berbentuk manusia dengan kaca pembesar
Sumber: depositphotos

Customer touchpoint adalah setiap titik interaksi pelanggan dengan bisnis yang dapat membentuk persepsi mereka terhadap sebuah brand, baik sebelum, saat, dan setelah melakukan pembelian.

Setiap interaksi tersebut berkontribusi terhadap pengalaman pelanggan, sehingga bisnis perlu memastikan kualitasnya tetap terjaga di setiap tahap.

Banyak orang mengira touchpoint hanya terbatas pada media digital, seperti website atau WhatsApp. Padahal, titik komunikasi ini bisa mewujud dalam berbagai bentuk, contohnya:

  • Melihat iklan di media sosial atau billboard.
  • Mengunjungi website atau marketplace.
  • Berbicara dengan customer service melalui telepon, email, atau WhatsApp.
  • Berinteraksi langsung dengan staf di toko fisik.
  • Menerima kemasan produk dan layanan purnajual.

Sederhananya, setiap touchpoint dalam customer journey ibarat stasiun pemberhentian dalam perjalanan konsumen. Pelanggan tidak menilai sebuah bisnis hanya dari satu stasiun, melainkan dari keseluruhan pengalaman perjalanan mereka.

Satu pengalaman yang kurang menyenangkan belum tentu membuat mereka langsung pergi. Namun, beberapa interaksi yang mengecewakan jelas dapat meruntuhkan kepercayaan terhadap bisnis Anda.

Jadi, seluruh stasiun ini harus menyampaikan identitas brand yang selaras. Mulai dari tampilan visual, gaya komunikasi, hingga kualitas pelayanan, semuanya wajib saling mendukung.

Dengan begitu, pelanggan akan selalu merasakan kualitas pelayanan yang sama di mana pun mereka terhubung dengan Anda.

Namun, touchpoint tak selalu berarti channel. WhatsApp, email, website, marketplace, atau media sosial merupakan channel, sedangkan touchpoint adalah momen interaksi di dalamnya.

Contoh Customer Touchpoint

Setiap bisnis memiliki customer touchpoint berbeda, tergantung industri, model bisnis, dan cara pelanggan berinteraksi.

Berikut contoh customer touch point berdasarkan tahapan perjalanan pelanggan:

Pre-Purchase Touchpoint

Ulasan pelanggan di Amazon
Sumber: depositphotos

Pada tahap ini, pelanggan baru mulai mengenal brand atau mempertimbangkan produk yang ditawarkan.

Tujuannya, membangun ketertarikan sekaligus membantu calon pelanggan memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Di fase inilah touchpoint marketing berperan besar dalam membentuk kesan pertama terhadap bisnis.

Apa saja contohnya?

  • Iklan di Instagram, TikTok, atau Facebook.
  • Hasil pencarian Google (SEO maupun iklan berbayar).
  • Artikel blog atau halaman edukasi di website.
  • Ulasan dan testimoni pelanggan.
  • Rekomendasi dari teman atau keluarga.
  • Diskusi awal melalui chatting platform seperti WhatsApp saat calon pelanggan bertanya mengenai produk, harga, atau stok.

Purchase Touchpoint

Tombol Add to Cart di ecommerce
Sumber: depositphotos

Saat pelanggan sudah siap membeli, kualitas interaksi dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menyelesaikan transaksi.

Pengalaman belanja yang membingungkan atau respons yang lambat sangat rawan membuat konsumen berubah pikiran.

Beberapa contoh customer touchpoint di fase ini meliputi:

  • Halaman produk dan keranjang belanja.
  • Proses checkout dan pembayaran.
  • Live chat atau customer service.
  • Promo, voucher, atau gratis ongkir.
  • Notifikasi konfirmasi pesanan melalui email, WhatsApp, atau SMS.

Dari daftar di atas, proses transaksi di Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena tidak selalu berakhir di halaman checkout e-commerce.

Dengan sekitar 65% pengguna ponsel yang aktif menggunakan WhatsApp, tidak sedikit bisnis lokal yang justru memindahkan seluruh alur transaksi ke dalam ruang obrolan.

Oleh sebab itu, touchpoint berbasis percakapan perlu dikelola dengan baik agar pelanggan tetap memperoleh pengalaman yang seefisien sistem otomatis di e-commerce.

Post-Purchase Touchpoint

Kartu terima kasih di dalam kotak
Sumber: depositphotos

Customer journey tidak berakhir setelah pembayaran berhasil dilakukan. Justru pada tahap inilah bisnis memiliki kesempatan untuk membangun loyalitas dan mendorong pelanggan kembali bertransaksi.

Beberapa contohnya meliputi:

  • Pesan ucapan terima kasih atau follow-up melalui WhatsApp maupun email.
  • Informasi status pesanan dan pengiriman.
  • Layanan customer service untuk bantuan atau komplain.
  • Survei kepuasan pelanggan.
  • Tips penggunaan produk.
  • Program loyalitas, poin, atau voucher khusus pelanggan.

Nah, fase purnajual ini masih sering terlewatkan oleh banyak bisnis. Padahal, komunikasi yang tetap terjaga setelah transaksi dapat meningkatkan kepuasan pelanggan sekaligus membuka peluang terjadinya pembelian ulang.

Kenapa Customer Touchpoint Penting?

Apakah setiap customer touchpoint benar-benar berpengaruh terhadap perkembangan bisnis? Untuk memahami berbagai manfaatnya, mari kita bedah satu per satu.

1. Menekan Customer Acquisition Cost

Pemilik bisnis sedang mengkalkukasi biaya operasional
Sumber: depositphotos

Banyak bisnis membakar anggaran iklan besar-besaran untuk mendatangkan calon pembeli, namun gagal mengonversinya menjadi penjualan karena respons admin yang lambat atau halaman checkout yang rumit.

Mengoptimalkan setiap titik temu yang sudah ada jauh lebih efektif untuk meningkatkan angka penjualan daripada terus-menerus mendatangkan trafik baru.

Ketika setiap titik interaksi berfungsi dengan efisien, Anda bisa menghemat biaya pemasaran karena persentase kegagalan transaksi berhasil ditekan.

2. Mempengaruhi Keputusan Pembelian

Ketika konsumen dihadapkan pada beberapa merek yang menjual produk sejenis dengan harga yang mirip, kualitas interaksi lah yang akan menjadi pembeda utama. Ketidakjelasan informasi di satu titik saja akan langsung memicu keraguan konsumen.

Bahkan ketika konsumen sangat menyukai sebuah produk atau merek, sebanyak 17% dari mereka akan langsung pergi dan mencari kompetitor hanya setelah mengalami satu kali interaksi yang buruk.

Jadi, menjaga konsistensi layanan pelanggan di semua lini akan memberikan nilai tambah yang membuat bisnis Anda tetap dipilih tanpa harus ikut terjebak dalam perang diskon.

3. Membangun Loyalitas Jangka Panjang 

Staff customer support sedang membantu kendala konsumen
Sumber: depositphotos

Titik interaksi pasca-pembelian adalah kunci utama untuk mengubah pembeli satu kali menjadi pelanggan setia.

Saat bisnis mampu menjaga konsistensi layanan pelanggan di berbagai channel, mulai dari proses klaim garansi hingga respons customer service, pelanggan akan merasa lebih percaya terhadap brand Anda.

Kepercayaan inilah yang membuat mereka lebih nyaman untuk terus bertransaksi dibanding mencoba alternatif lain.

4. Memberikan Data untuk Perbaikan Strategi 

Tanpa mengevaluasi setiap titik interaksi, bisnis akan kesulitan mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Setiap interaksi pelanggan menghasilkan data yang dapat membantu menjawab pertanyaan seperti:

  • Channel mana yang paling banyak mendatangkan pelanggan.
  • Touchpoint mana yang paling sering memicu pertanyaan.
  • Tahap mana yang paling banyak membuat pelanggan membatalkan transaksi.

Informasi tersebut membantu proses customer journey mapping sehingga strategi yang disusun lebih tepat sasaran dan sesuai dengan perilaku pelanggan.

Cara Mengelola Customer Touchpoint dengan Efektif

Berikut ini merupakan langkah bagaimana cara mengelola customer touchpoint secara efisien:

1. Petakan Semua Touchpoint yang Ada Sekarang

Halaman iklan di Facebook Business
Sumber: depositphotos

Sebelum melakukan perubahan, buat daftar seluruh touchpoint yang dimiliki.

Tujuannya, memperoleh gambaran menyeluruh mengenai bagaimana pelanggan berinteraksi dengan brand Anda di setiap tahap perjalanan mereka.

Beberapa touchpoint yang perlu diidentifikasi antara lain:

  • Iklan digital dan media sosial
  • Website atau marketplace
  • WhatsApp, email, dan telepon
  • Customer service
  • Proses checkout dan pembayaran
  • Layanan purnajual serta program loyalitas

Melalui pemetaan ini, Anda akan lebih mudah menentukan prioritas perbaikan tanpa harus mengubah seluruh proses sekaligus.

2. Fokus pada Touchpoint dengan Interaksi Terbanyak 

Tidak semua touchpoint memberikan dampak yang sama terhadap operasional bisnis. Jadi, awali evaluasi dari channel dengan volume interaksi paling tinggi.

Bagi banyak bisnis di Indonesia, WhatsApp menjadi salah satu media komunikasi yang paling aktif digunakan, baik untuk menjawab pertanyaan, menerima pesanan, maupun memberikan layanan setelah pembelian.

Atas dasar inilah, mengoptimalkan customer journey melalui WhatsApp dapat menjadi langkah awal yang memberikan dampak nyata terhadap pengalaman pelanggan.

3. Jaga Konsistensi Pesan dan Tone di Semua Channel

Pelanggan akan bingung apabila informasi yang mereka terima berbeda antara website, media sosial, dan customer service.

Pastikan informasi mengenai harga, promo, kebijakan, maupun layanan selalu selaras.

Gaya komunikasi dapat disesuaikan dengan karakter masing-masing channel. Namun, pesan utama tetap harus konsisten agar tercipta omnichannel customer experience yang lebih baik..

4. Hubungkan Seluruh Channel dalam Satu Sistem

Ikon aplikasi media sosial di layar HP
Sumber: depositphotos

Bayangkan seorang pelanggan yang mengeluhkan kerusakan produk di Instagram, lalu diarahkan ke WhatsApp, namun admin WhatsApp tidak tahu apa-apa tentang keluhan tersebut. Fragmentasi data seperti inilah yang sering kali merusak pengalaman belanja.

Melalui pendekatan strategi omnichannel marketing, Anda bisa menyatukan seluruh infrastruktur komunikasi ke dalam satu dasbor tunggal.

Sistem ini melacak dan merekam setiap titik sentuh konsumen secara kronologis. Ketika semua data berada di satu tempat, tim CS tidak perlu lagi melompat antar-aplikasi atau menebak-nebak riwayat pelanggan.

5. Ukur dan Evaluasi Secara Berkala

Customer touchpoint perlu dievaluasi secara rutin agar tetap sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang terus berubah.

Beberapa indikator yang dapat dipantau meliputi:

  • Waktu respons pelanggan (response time)
  • Tingkat konversi pada setiap channel
  • Nilai kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
  • Churn rate atau tingkat pelanggan yang berhenti menggunakan layanan

Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan touchpoint mana yang perlu dipertahankan, ditingkatkan, atau disederhanakan agar pengalaman pelanggan terus berkembang.

FAQ Seputar Customer Touchpoint

Berikut beberapa pertanyaan yang kerap muncul saat pelaku bisnis mulai mempelajari customer touchpoint.

Apa perbedaan customer touchpoint dan customer journey?

Customer journey adalah keseluruhan perjalanan pelanggan sejak mengenal brand hingga pasca pembelian.

Sementara itu, customer touchpoint merupakan setiap titik interaksi yang terjadi di sepanjang perjalanan tersebut.

Sederhananya, customer journey ibarat peta perjalanan, sedangkan touchpoint adalah setiap pemberhentian yang dilalui pelanggan.

Berapa banyak touchpoint yang ideal untuk satu bisnis?

Tidak ada jumlah touchpoint yang ideal karena kebutuhan setiap bisnis berbeda..

Yang penting, pastikan setiap titik interaksi dikelola secara konsisten dan memberikan pengalaman yang baik.

Terlalu banyak touchpoint tanpa pengelolaan yang tepat justru dapat membingungkan pelanggan dan menurunkan kualitas layanan.

Apakah WhatsApp termasuk customer touchpoint?

Ya. WhatsApp merupakan salah satu customer touchpoint digital yang sangat penting, terutama di Indonesia.

Channel ini bisa digunakan sejak pelanggan mencari informasi, melakukan transaksi, hingga memperoleh layanan purnajual.

Perlu diingat: Karena volume interaksinya tinggi, pengelolaannya perlu dilakukan secara konsisten agar pengalaman pelanggan tetap terjaga.

Apa yang terjadi jika touchpoint tidak dikelola dengan baik?

Touchpoint yang dikelola dengan kurang baik dapat membuat pelanggan menghentikan proses pembelian atau beralih ke kompetitor.

Dalam jangka panjang, pengalaman yang tidak konsisten juga mengurangi peluang pembelian ulang dan menurunkan loyalitas pelanggan terhadap bisnis Anda.

Bangun Pengalaman Pelanggan yang Konsisten di Setiap Touchpoint

Customer touchpoint adalah bagian penting operasional bisnis untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan di setiap interaksi.

Setiap touchpoint bisa membantu menciptakan pengalaman yang lebih konsisten sekaligus memperkuat kepercayaan pelanggan.

Nah, bayangkan Anda bisa mengintegrasikan WhatsApp, media sosial, dan email ke dalam satu dashboard agar seluruh interaksi pelanggan lebih mudah dikelola.

Dengan layanan WhatsApp Business API dengan dukungan solusi omnichannel dari Jatis Mobile, upaya bisnis Anda untuk bisa membuat tiap touchpoint berdampak positif kian mudah.

WhatsApp Business API dari Jatis Mobile