Masih bingung memilih chatbot AI atau agentic AI untuk bisnis Anda? Atau belum tahu perbedaan keduanya?
Secara sederhana, chatbot memang bisa menjawab jam buka toko atau ketersediaan produk, tapi untuk request perubahan pesanan, peran agentic AI mungkin lebih diperlukan.
Artikel ini akan membahas apa itu agentic AI, cara kerjanya, dan kapan bisnis Anda perlu menggunakannya. Mari simak selengkapnya!
Apa Itu Agentic AI?
Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang dapat menentukan langkah dan menjalankan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem ini menilai informasi yang tersedia, memilih tools yang diperlukan, lalu menyesuaikan langkah berdasarkan hasil pemeriksaan.
Ciri utamanya meliputi perencanaan, penggunaan konteks atau memori tugas, dan keputusan dalam batas kewenangan manusia.
Generative AI menghasilkan konten atau jawaban; agentic AI dapat menggunakan kemampuan itu untuk merencanakan dan menjalankan tugas lintas sistem.
Bisnis harus menetapkan tujuan yang jelas. Dalam pemeriksaan keluhan, misalnya, tugas AI bisa dibatasi pada mencari penyebab dan menyiapkan tindak lanjut. Tanpa batas itu, AI berisiko mengusulkan tindakan yang melampaui prosedur.
Dalam customer service, contohnya, AI dapat memeriksa beberapa catatan untuk membantu menelusuri keluhan. Akan tetapi, keputusan pengembalian dana atau perubahan data sensitif tetap dapat disyaratkan melalui persetujuan manusia.
Bagaimana Cara Kerja Agentic AI?

Untuk memahami cara kerja artificial intelligence dalam sistem agentic, berikut empat tahap dari memahami permintaan hingga mengevaluasi tindakan.
1. Menentukan Persepsi
Pertama, sistem mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk memahami permintaan. Sumbernya bisa berupa pesan pelanggan, riwayat percakapan, status pesanan, atau kebijakan layanan yang dapat diakses sesuai izin.
Jika pelanggan mengaku belum menerima paket, AI perlu mengetahui nomor pesanan dan status pengiriman. Jika informasi tersebar di sistem yang tidak terhubung, AI berisiko menilai kasus dari data yang belum lengkap.
2. Membangun Logika Berpikir
Selanjutnya, sistem menilai tujuan pelanggan dan menentukan urutan pemeriksaan. Proses ini disebut reasoning, yaitu memilih langkah berdasarkan informasi yang ditemukan, bukan selalu menjalankan urutan yang sama.
AI dapat memutuskan apakah nomor pesanan perlu diminta, bukti pengiriman harus diperiksa, atau persetujuan petugas diperlukan karena catatannya bertentangan. Dengan begitu, reasoning menentukan langkah yang masuk akal, bukan memberi AI hak mengambil semua keputusan.
3. Melakukan Tindakan
Setelah menentukan langkah, agentic AI menggunakan tools atau integrasi yang diizinkan. Tindakannya dapat berupa mengambil informasi, menyiapkan tiket dukungan, atau menjalankan workflow tertentu.
Tetapi kemampuan mengakses data tidak otomatis berarti sistem boleh mengubahnya. Misalnya, AI dapat menyiapkan usulan koreksi alamat, sedangkan penerapan perubahan membutuhkan konfirmasi atau persetujuan sesuai aturan perusahaan.
4. Mengumpulkan Memori dan Adaptasi
Sistem kemudian memeriksa hasil tindakan dan menyimpan konteks yang relevan untuk melanjutkan tugas. Jika data baru menunjukkan masalah berbeda, langkah berikutnya dapat berubah.
Adaptasi selama satu tugas tidak berarti model belajar permanen dari setiap percakapan. Manusia tetap menetapkan tujuan, indikator hasil, batas akses, jalur fallback, dan titik persetujuan, lalu meninjau keputusan penting melalui catatan tindakan.
Beda Chatbot AI dan Agentic AI untuk Bisnis?

Chatbot AI berfokus pada percakapan, sedangkan agentic AI dapat menentukan dan menjalankan tindakan untuk mencapai tujuan, seperti terlihat dalam perbandingan berikut.
| Aspek | Chatbot AI | Agentic AI |
|---|---|---|
| Tujuan | Menjawab dan membantu percakapan | Menyelesaikan tugas berdasarkan tujuan |
| Pola kerja | Mengikuti konteks percakapan dan alur yang tersedia | Merencanakan serta menyesuaikan tindakan |
| Langkah | Umumnya terbatas atau sudah diatur | Dapat memilih urutan sesuai hasil pemeriksaan |
| Tools | Bisa memakai knowledge base dan integrasi | Memilih tools untuk menjalankan beberapa tindakan |
| Fleksibilitas | Tergantung desain dan kemampuan chatbot | Lebih besar untuk tugas yang sulit diprediksi |
| Risiko | Terutama kesalahan informasi dan respons | Termasuk dampak tindakan pada sistem bisnis |
| Kontrol manusia | Aturan jawaban dan pengalihan kasus | Batas akses, persetujuan, pemantauan, dan eskalasi |
Keduanya bisa digunakan bersama, tetapi chatbot berbasis large language model (LLM) atau yang memakai integrasi belum tentu memiliki kemampuan agentic. Jika kebutuhan utamanya menjelaskan informasi produk, memeriksa status sederhana, atau mengarahkan pelanggan, chatbot biasanya cukup. Bahkan, alur yang memiliki beberapa langkah tetap bisa menggunakan otomasi berbasis aturan apabila urutannya sudah jelas.
Agentic AI lebih layak dipertimbangkan ketika sistem harus menentukan pemeriksaan berikutnya dari hasil yang belum pasti. Semakin besar dampak tindakannya, semakin ketat pula kontrol yang dibutuhkan.
Kapan Bisnis Perlu Menggunakan Agentic AI?

Dari berbagai contoh artificial intelligence untuk bisnis, enam situasi berikut menunjukkan kapan kemampuan agentic diperlukan dan kapan otomasi biasa masih cukup.
1. Merancang Campaign
Agentic AI patut dipertimbangkan ketika rencana kampanye harus terus diubah karena tugas, prioritas, dan persetujuan beberapa tim saling bergantung. Misalnya, dalam peluncuran produk per wilayah, AI dapat menyusun tugas dan jadwal, memantau progres, lalu menandai persetujuan yang terlambat sebelum mengganggu peluncuran.
Jika urutan tugas sudah pasti, marketing automation biasanya cukup. Kemampuan agentic lebih berguna ketika sistem perlu menilai perubahan, menyusun alternatif, dan meminta persetujuan atas penyesuaian rencana.
2. Engagement dengan Audiens
Agentic AI layak dipertimbangkan ketika pesan, penawaran, dan waktu komunikasi harus terus disesuaikan dengan perubahan perilaku pelanggan yang sulit ditangani melalui alur tetap. Sistem dapat menilai riwayat pembelian, preferensi, dan respons terbaru sebelum memilih tindak lanjut.
Misalnya, pelanggan yang meminta penawaran kemudian mengajukan keluhan atas produk sebelumnya. AI dapat memeriksa status keluhan dan menyiapkan pesan lanjutan setelah masalah ditangani. Jika cukup menggunakan satu aturan penundaan, otomasi biasa tetap memadai. Bisnis tetap menetapkan izin komunikasi, batas frekuensi, dan metrik hasilnya.
3. Segmentasi Audiens
Agentic AI lebih relevan ketika perubahan perilaku pelanggan membuat segmentasi perlu dievaluasi dari beberapa sinyal sekaligus, bukan hanya satu aturan seperti lokasi atau transaksi terakhir. Misalnya, pelanggan baru awalnya mencari laptop pribadi, tetapi riwayat kunjungan dan percakapan berikutnya menunjukkan kebutuhan pengadaan untuk tim kantor.
Sistem dapat mengusulkan pemindahan segmen setelah menilai sinyal tersebut. Namun, jika kriterianya tetap dan jelas, segmentasi otomatis biasa sudah cukup. Penerapan lebih lanjut membutuhkan data terpusat, konsisten, dan berizin; pendekatan ini juga berkaitan dengan AI marketing.
4. Testing dan Optimasi Campaign
Agentic AI patut dipertimbangkan ketika banyak variasi pesan, waktu, atau alur pelanggan diuji bersamaan dan keputusan pengujian berikutnya perlu menyesuaikan hasil sebelumnya. A/B testing biasa sudah memadai jika variasi serta aturan pemilihannya ditentukan sejak awal.
Dalam pengujian yang lebih dinamis, AI dapat membandingkan hasil, mengusulkan variasi lanjutan, lalu menyiapkan alokasi lebih besar untuk pilihan yang terbukti lebih baik. Penilaian harus memakai KPI seperti konversi atau biaya akuisisi, dengan data yang cukup dan persetujuan sebelum perubahan signifikan dijalankan.
5. Koordinasi Lintas Department
Agentic AI relevan ketika satu perubahan pelanggan menuntut beberapa keputusan yang harus konsisten di CRM, layanan pelanggan, kampanye, dan kanal komunikasi. Misalnya, pelanggan dengan komplain terbuka perlu dikecualikan dari promosi, sementara tim terkait menerima pembaruan status agar tidak mengirim pesan serupa.
Jika perubahan cukup dipindahkan melalui aturan tetap, integrasi biasa mungkin sudah memadai. Agentic AI lebih layak dipertimbangkan ketika sistem harus memeriksa konflik, menentukan langkah lintas tim, atau mengusulkan penyesuaian anggaran. Namun, data dan workflow yang terpisah dapat membuat keputusan keliru meskipun AI mampu merencanakan tindakannya.
6. Manajemen Prospek dan Retensi
Agentic AI dapat dipertimbangkan ketika prioritas tindak lanjut berubah karena beberapa sinyal perlu dinilai bersama, misalnya peluang pembelian, nilai pelanggan, atau risiko berhenti berlangganan. Penilaian berdasarkan satu skor CRM yang tetap mungkin belum memerlukan agentic AI.
Contohnya, pelanggan bernilai tinggi yang berulang kali mengajukan komplain dapat diprioritaskan untuk ditangani sebelum menerima penawaran baru. AI bisa mengusulkan waktu dan isi follow-up berdasarkan riwayat interaksi, sedangkan bisnis menetapkan tujuan, batas akses data, dan pemicu eskalasi.
Mulailah dari satu kasus bernilai jelas dengan data yang andal. Uji hasilnya bersama tim terkait sebelum memperluas kewenangan AI.
Tantangan Agentic AI?

Berikut enam tantangan yang perlu ditangani sebelum bisnis memberikan kewenangan lebih besar kepada agentic AI.
1. Kualitas Knowledge Base
Agentic AI bergantung pada informasi produk, prosedur, dan kebijakan yang akurat. Jika knowledge base masih memuat aturan pengembalian barang lama, kesalahannya bisa memengaruhi jawaban sekaligus usulan tindakan AI.
Bisnis perlu menunjuk penanggung jawab pembaruan, meninjau kebijakan secara berkala, serta memastikan riwayat kasus yang relevan tersedia sesuai izin. Ketika informasi saling bertentangan, AI harus meminta pemeriksaan manusia, bukan memilih jawaban yang terdengar paling meyakinkan.
2. Akses Data Dan Privasi
AI tidak memerlukan akses ke seluruh data pelanggan untuk menyelesaikan satu permintaan. Tentukan tujuan penggunaan, catatan yang boleh dibaca, pihak yang mengizinkan akses, serta tindakan yang boleh dijalankan.
Misalnya, izin melihat status pembayaran tidak sama dengan izin mengubah tagihan. Pembatasan ini mengurangi risiko penyalahgunaan data, keputusan dari informasi yang tidak diperlukan, dan pelanggaran kebijakan privasi serta ketentuan pelindungan data pribadi.
3. Risiko Tindakan yang Dilakukan
Semakin besar kewenangan AI, semakin penting membedakan tindakan yang mudah dikoreksi dari yang berdampak besar. Menyiapkan draf tiket berbeda risikonya dari menyetujui kompensasi, mengeluarkan biaya, atau mengubah akses pelanggan.
Karena itu, tetapkan tindakan yang boleh dijalankan sendiri, batas nilai transaksi, persetujuan manusia, dan jalur fallback. Ketika data tidak cukup atau tindakan tidak bisa dibatalkan dengan mudah, sistem perlu berhenti dan meminta keputusan petugas.
4. Transparansi Keputusan
Ketika AI menggunakan beberapa sistem, tim perlu mengetahui data yang dipakai, tools yang dipanggil, tindakan yang benar-benar dijalankan, serta dampaknya bagi pelanggan. Tanpa catatan tersebut, kesalahan sulit ditelusuri dan diperbaiki.
Bedakan rekomendasi yang masih menunggu izin dari perubahan yang sudah terjadi. Riwayat ini membantu petugas menentukan kapan harus mengintervensi, memperbaiki guardrails, dan memastikan keputusan tetap sesuai tujuan bisnis.
5. Intervensi Manusia dan Eskalasi
Manusia perlu tetap memegang strategi dan keputusan berisiko. Tetapkan pemicu eskalasi, misalnya permintaan ambigu, sentimen pelanggan yang memburuk, risiko kepatuhan, pemeriksaan berulang yang gagal, atau tindakan yang sulit dibatalkan.
Ketika kasus dialihkan, petugas harus menerima ringkasan permintaan, data terkait, tindakan dan hasil pemeriksaan AI, status terakhir, alasan eskalasi, serta keputusan yang belum diambil. Dengan begitu, tindak lanjut dapat dimulai tanpa meminta pelanggan mengulang masalahnya.
6. Kebutuhan Percakapan Omnichannel
Ketika pelanggan berpindah dari WhatsApp ke Telegram atau DM, keputusan AI dapat keliru jika riwayat dan status kasus tidak tersedia secara konsisten. Namun, jika kebutuhan bisnis hanya menjawab pertanyaan pada setiap kanal, chatbot dengan informasi yang benar mungkin sudah cukup.
Untuk kebutuhan percakapan, Ngobrol.ai dari Jatis Mobile mendukung chatbot berbasis LLM melalui WhatsApp, Telegram, Facebook Messenger, dan Instagram DM. Dukungan beberapa kanal tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh riwayat tersatukan atau AI dapat menjalankan tugas agentic lintas sistem.
Sejati.AI diperkenalkan Jatis sebagai platform AI assistant, tetapi kemampuan tindakan otonomnya perlu dikonfirmasi untuk setiap kebutuhan. Sebelum memperluas otonomi, uji konsistensi data, batas akses, persetujuan, dan eskalasi dengan kasus terbatas.
FAQ Seputar Chatbot AI dan Agentic AI
Berikut jawaban singkat untuk beberapa pertanyaan tentang chatbot AI dan agentic AI.
1. Apakah chatbot LLM otomatis menjadi agentic AI?
Tidak. LLM memang bisa memahami dan merespons, tetapi belum tentu merencanakan tugas atau memilih tindakan. Kemampuan agentic butuh proses berorientasi tujuan, penggunaan tools, evaluasi, dan kewenangan khusus.
2. Info apa yang perlu disertakan saat pengalihan dari AI ke manusia?
Sertakan ringkasan permintaan, data yang relevan, tindakan atau pemeriksaan AI, hasil sementara, status kasus, dan alasan eskalasi. Jelaskan juga keputusan yang masih perlu diambil jika dialihkan ke admin manusia.
3. Perbedaan otomasi berbasis aturan, chatbot AI, dan agentic AI?
Otomasi berbasis aturan menjalankan langkah tetap. Chatbot AI mengelola percakapan menggunakan alur tersebut. Agentic AI menyesuaikan langkah untuk mencapai tujuan dengan batas yang ditentukan.
4. Tanda bisnis masih butuh chatbot AI, bukan agentic AI?
Untuk pertanyaan berulang, chatbot AI sudah cukup. Namun, jika alur belum standar, knowledge base lemah, atau butuh persetujuan manual, perbaiki proses tersebut terlebih dahulu sebelum memberi hak akses lebih luas pada Agentic AI.
Siap Memilih AI untuk Layanan Pelanggan Bisnis Anda?
Untuk bisnis yang ingin proses dan transaksi lebih mudah, penggunaan AI wajib dilakukan. Namun, pastikan Anda memilih sistem yang tepat, baik itu chatbot AI atau agentic AI.
Anda bisa mulai memetakan tugas, data, risiko dari otomasi yang dijalankan. Gunakan chatbot untuk rutinitas proses, dan agentic AI jika alur kerja dinamis melibatkan banyak sistem.

Jika masih ragu, Anda bisa mendiskusikan kebutuhan otomasi untuk bisnis dan layanan pelangaan Anda dengan menghubungi tim Jatis.

Erich is a results-oriented Marketing Leader with over 10 years of experience crafting compelling brand narratives and executing data-driven campaigns across B2B and B2C sectors. He’s also an expert in managing high-scale marketing budgets, by delivering up to 4x ROI, and driving billion-rupiah project acquisitions.


