Featured image untuk artikel Chat Penipuan WhatsApp
Home » Blog » Modus Chat Penipuan WhatsApp Terbaru: Dampak Bisnis & Cara Mengatasinya

Modus Chat Penipuan WhatsApp Terbaru: Dampak Bisnis & Cara Mengatasinya

Table of Contents

Bagikan:

Chat penipuan WhatsApp kian canggih dan sulit dikenali. Makin banyak sindikat memanfaatkan manipulasi psikologis untuk mencuri data, mengambil alih akun, hingga menguras aset korban.

Jika Anda menjadi korbannya, akibatnya bisa cukup serius. Bagi bisnis, dampaknya bisa lebih besar karena berisiko merusak reputasi, kepercayaan pelanggan bahkan keberlangsungan bisnis.

Tak mau itu terjadi pada Anda? Artikel ini membantu Anda memahami modus penipuan WA terbaru, contoh penipuan di WhatsApp dan cara menghadapinya. Simak selengkapnya.

Contoh WA Penipuan

Ini beberapa contoh penipuan WhatsApp yang bisa membantu Anda mempelajari modus yang biasa digunakan:

1. Menyamar sebagai Atasan atau Rekan Kerja

Penyamaran identitas jadi modus penipuan WhatsApp paling merugikan bagi bisnis.

Bayangkan saat pelaku menggunakan foto, nama, hingga gaya bahasa layaknya pimpinan atau rekan Anda. Potensi Anda mempercayai itu benar akun asli tentunya besar.

Tak percaya? Coba lihat kembali kasus INOX Group yang baru terjadi.

Chat WA penipu yang menyamar menjadi Siddarth Jain
Sumber: mumbaikhabar9 di Instagram

Scammer membuat akun WhatsApp dengan foto Direktur Eksekutif. Mereka lalu menghubungi staf keuangan lewat “nomor pribadi”. Korban diminta jangan telepon karena pelaku lagi rapat.

Setelah percaya bahwa yang mengirim sang direktu, pelaku mengirim beberapa instruksi transfer ke berbagai rekening. Korban tak curiga.

Dalam dua minggu, korban melakukan puluhan transaksi senilai Rp20 miliar lebih sebelum sadar itu penipuan.

2. Phishing Melalui Link atau Halaman Login Palsu

Serangan phishing sering dimulai dengan pesan yang memicu rasa penasaran atau panik. Misalnya, “Segera cek fotomu sekarang” atau “Akun Anda diblokir”.

Korban lalu diarahkan ke halaman yang mirip layanan resmi seperti WhatsApp Web. Biasanya akan ada kewajiban untuk melakukan login atau otentikasi pada umumnya.

Setelah korban memasukkan data atau memindai QR Code, pelaku akan mendapat akses ke WhatsApp mereka.

Jika itu terjadi, kendali sudah pada peretas. Akun itu bisa digunakan untuk meminta uang, mencuri data, atau menipu kontak korban.

3. Pembajakan Akun Tanpa Interaksi dengan Korban

Jangan beranggapan semua serangan perlu bantuan korban membuka tautan atau mengunduh file. Ada juga yang memanfaatkan celah keamanan ponsel atau sistem operasi.

Yang pernah heboh yaitu adanya celah keamanan serius pada iOS 16. Penyerang memamfaatkan zero-click exploit untuk mencuri materi kriptografi sesi WhatsApp dari jarak jauh.

Akses ini memungkinkan pelaku membuat sesi baru tanpa diketahui pemiliknya.

Korban tetap bisa memakai aplikasi seperti biasa, tapi penyerang bisa mengirim pesan atas nama korban tanpa muncul di daftar linked devices.

4. Lampiran Berbahaya Berkedok Dokumen Keuangan

Masih sering asal membuka attachment yang dikirim lewat WhatsApp? Sebaiknya Anda mulai memikirkannya lagi.

Contoh penipuan chat WhatsApp mulai menggunakan kiriman file berkedok laporan audit, nota, atau dokumen keuangan penting. Padahal, di dalamnya ada skrip berbahaya.

Kampanye malware WhatsApp

Gambar: Microsoft

Ini salah satu modus penipuan WA terbaru yang membuat geger karena menyangkut salah satu bisnis terbesar, Microsoft. Peretas memanfaatkan file VBS via WhatsApp.

Jadi, malware mengunduh komponen tambahan, melemahkan perlindungan Windows, dan memasang software remote management untuk mengendalikan komputer korban dari jarak jauh.

5. Meminta Korban Meneruskan Kode OTP

Metode penipuan di WhatsApp ini disebut OTP forwarding scam. Serangan ini mengandalkan social engineering yang memanipulasi korban agar sukarela menyerahkan informasi penting.

Pelaku biasanya mengaku salah mengirim kode verifikasi atau meminta bantuan meneruskan enam digit OTP yang “tidak sengaja” masuk ke nomor korban.

Kode OTP itulah yang digunakan untuk memindahkan sesi WhatsApp ke perangkat pelaku. Begitu OTP diberikan, pelaku langsung melakukan account takeover dan korban kehilangan akses ke akunnya.

6. Mengaku sebagai Instansi Pemerintah

Berapa kerugian penipuan yang mengatasnamakan pemerintah? Untuk kasus Coretax RAT, bisa mencapai 2 juta dollar.

Jadi, modus penipuannya dengan mengajak korban melakukan aktivasi Coretax. Pada saat itu, dengan memanfaatkan aplikasi mobile palsu. Banyak yang terjebak dan mengikuti panduan login.

Welcome page Coretax

Gambar: Coretaxpedia

Padahal, tak ada aplikasi mobile untuk Coretax yang sebenarnya hanya upaya untuk bisa menanamkan malware. Alhasil, informasi pribadi dan kredensial perbankan dapat dicuri.

Modus Giveaway atau Voting Palsu

Website untuk tanda tangan petisi
Sumber: depositphotos

Modus chat penipuan WhatsApp ini memanfaatkan rasa percaya korban terhadap kontes atau program hadiah.

Pelaku menyebarkan tautan voting meyakinkan, lengkap dengan foto, jumlah suara, dan logo sponsor.

Korban yang tertarik akan menekan tombol Vote atau Authorize. Lalu, mereka akan diarahkan ke halaman login palsu untuk memasukkan nomor WhatsApp dan kode verifikasi.

Informasi itulah yang digunakan pelaku untuk mengambil alih akun lewat WhatsApp Web.

Serangan Terkoordinasi di Berbagai Channel

Kini, pelaku penipuan tidak lagi mengandalkan satu media komunikasi. Faktanya, 87% pembobolan melibatkan lebih dari satu jalur serangan.

Pelaku bisa memanfaatkan email, SMS di awal, lalu diperkuat WhatsApp dan telepon berbasis AI.

Informasi dari media sosial dikumpulkan dulu untuk digunakan agar chat pembuka terasa personal dan meyakinkan. Semua percakapan menggunakan data yang terkait dengan korban.

Ciri Chat Penipuan WhatsApp

Transition: Untuk meminimalisasi risiko manipulasi psikologis, tim internal perusahaan wajib mengenali karakteristik chat penipuan siber yang teridentifikasi lewat indikator berikut.

Mengaku Mewakili Instansi Resmi

Chat penipuan WA yang mengaku sebagai kurir ekspedisi
Sumber: depositphotos

Pelaku seringkali mengaku berasal dari bank, perusahaan besar, marketplace, atau instansi pemerintah. Namun, identitas akun tidak konsisten dengan lembaga yang diwakili.

Perhatikan beberapa tanda berikut:

  • Nama dan foto profil terlihat resmi, tetapi nomor pengirim merupakan nomor pribadi yang tidak dikenal.
  • Akun bisnis tidak memiliki badge verifikasi resmi Meta, padahal mengaku mewakili organisasi besar.
  • Pelaku mengaku menggunakan “nomor baru” atau “nomor pribadi” tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Identitas seperti ini sebaiknya selalu diverifikasi melalui kanal komunikasi resmi sebelum menindaklanjuti isi pesan.

Menggunakan Nada Mendesak atau Mengancam

Pelaku berusaha membuat korban kehilangan waktu untuk berpikir.

Chat biasanya berisi ancaman pemblokiran akun, pembatalan transaksi, sanksi hukum, atau instruksi transfer dana yang harus segera dilakukan.

Permintaan seperti “harus diselesaikan sekarang” atau “jangan telepon saya, saya sedang menyetir” patut dicurigai. Semakin besar tekanan yang diberikan, semakin besar pula kemungkinan chat tersebut merupakan upaya manipulasi.

Mengandung Kesalahan Penulisan yang Tidak Wajar

Penipuan judi online di WhatsApp
Sumber: depositphotos

Banyak pesan penipuan masih memuat salah ketik, tata bahasa yang janggal, atau susunan kalimat yang tidak lazim digunakan dalam komunikasi profesional.

Walaupun teknologi AI membuat sebagian pesan tampak lebih rapi, kesalahan penulisan, sapaan yang tidak konsisten, atau format pesan yang berantakan tetap menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Menawarkan Hadiah dari Kontes yang Tidak Pernah Anda Ikuti

Waspadai pesan yang tiba-tiba mengabarkan Anda memenangkan undian, memperoleh bonus, investasi dengan keuntungan pasti, atau lowongan kerja bergaji tinggi tanpa proses seleksi.

Penawaran semacam itu biasanya disertai permintaan untuk mengklik tautan, mengisi data pribadi, atau membayar biaya administrasi sebelum hadiah maupun keuntungan dapat dicairkan.

Mengirimkan Link yang Mencurigakan

Periksa alamat situs sebelum membuka link. Scammer sering menggunakan domain yang menyerupai website resmi dengan sedikit perbedaan huruf (typosquatting) atau memanfaatkan layanan pemendek URL untuk menyembunyikan alamat tujuan.

Apabila nama domain terlihat asing atau tidak sesuai dengan organisasi yang mengirimkan pesan, sebaiknya jangan dibuka sebelum dipastikan keasliannya.

Meminta Data Pribadi atau Kode Verifikasi

Seseorang sedang membuka password HP
Sumber: depositphotos

WhatsApp maupun institusi resmi tidak akan meminta kata sandi, PIN, kode OTP, detail rekening, atau informasi sensitif lainnya melalui chat.

Permintaan semacam ini hampir selalu bertujuan mengambil alih akun, mengakses layanan perbankan, atau mencuri identitas korban.

Mengirim File Asing

Pelaku juga bisa mengirim dokumen atau file yang terlihat seperti invoice, surat resmi, bukti pembayaran, atau laporan keuangan.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila lampiran menggunakan format yang dapat menjalankan program, seperti .apk, .exe, atau skrip tertentu. File tersebut berpotensi memasang malware setelah dibuka.

Memulai Percakapan dengan Modus “Salah Nomor”

Pelaku sering mengawali percakapan dengan alasan salah mengirim pesan atau salah menyimpan kontak.

Obrolan kemudian diarahkan menjadi semakin akrab sebelum korban diminta memberikan informasi pribadi atau ditawari investasi dan peluang bisnis.

Teknik ini bertujuan membangun kepercayaan terlebih dahulu sebelum penipuan dilakukan.

Meminta Korban Menjalankan Kode USSD atau MMI

Pelaku dapat mengirim instruksi agar korban mengetik kode USSD atau MMI tertentu melalui aplikasi telepon. Alasannya beragam, mulai dari aktivasi layanan, verifikasi akun, hingga pembaruan pengaturan keamanan.

Kode USSD memang merupakan fitur resmi pada ponsel dan operator seluler. Namun, penggunaan kode yang diberikan oleh pihak tidak dikenal dapat mengubah konfigurasi perangkat, misalnya mengaktifkan pengalihan panggilan (call forwarding).

Cara Mengatasi Chat Penipuan di WhatsApp

Fitur blokir nomor tidak dikenal
Sumber: depositphotos

Berikut cara mengatasi penipuan di WhatsApp yang dapat Anda lakukan.

1. Hubungi Bank untuk Risiko Finansial

Jika ada dampak pada finansial, segera hubungi bank dalam 10-30 menit pertama. Sampaikan bahwa Anda korban penipuan dan minta petugas memblokir rekening yang terkait.

Siapkan info ini agar penanganan lebih cepat:

  • Waktu transaksi
  • Nominal transfer
  • Nomor rekening tujuan
  • Bukti transfer/tangkapan layar

2. Pulihkan Keamanan Akun WhatsApp

Jika akun WhatsApp dibajak, segera lakukan pendaftaran ulang dengan nomor yang sama.

Di beberapa kasus, menghapus data lalu menginstal ulang WhatsApp bisa memutus sesi ilegal dan memulai verifikasi OTP. Apalagi, jika Anda mengaktifkan 2FA.

Jika akses tidak dapat dipulihkan, kirim email ke support@whatsapp.com dengan subjek “WhatsApp saya +62[nomor] hilang/dicuri” dan jelaskan kronologinya.

3. Hindari Berinteraksi dengan Pelaku

Amankan bukti percakapan, nomor pengirim, tautan, dan lampiran jika Anda mulai curiga bahwa itu adalah chat penipuan WhatsApp. Jangan lanjutkan untuk berinteraksi dengan pelaku.

Nantinya, semua bukti bisa digunakan untuk laporan awal ke ke pihak berwajib.

4. Lepas Tautan Perangkat yang Tidak Dikenal

Anda menggunakan WhatsApp multi device alias di banyak perangkat? Coba lepaskan tautan dari perangkat yang tidak Anda kenal.

Caranya, buka menu Linked Devices dan cek semua perangkat yang terhubung. Segera “remove” perangkat tak dikenal agar pelaku kehilangan akses ke akun Anda.

5. Beri Peringatan kepada Kontak Anda

Informasikan kepada semua kontak Anda bahwa akun WhatsApp Anda diretas. Manfaatkan semua channel media sosial, SMS, email, atau lainnya yang masih bisa diakses.

Minta kontak Anda untuk mengabaikan semua pesan, permintaan uang, atau informasi apapun atas nama Anda hingga Anda memastikan bahwa akun sudah dipulihkan kembali.

6. Buat Laporan Kepolisian

Laporkan dugaan penipuan ke kantor polisi terdekat atau lewat patrolisiber.id. Bawa semua bukti chat penipuan WhatsApp agar pemeriksaan lebih cepat.

Simpan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP), karena dokumen itu sering dibutuhkan untuk proses investigasi atau penanganan pihak bank.

7. Laporkan ke IASC dan OJK

Korban penipuan transaksi keuangan sebaiknya segera membuat laporan ke Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melalui iasc.ojk.go.id atau menghubungi kontak OJK 157.

Sertakan tangkapan layar percakapan, bukti transfer, identitas diri, serta kronologi kejadian.

Setelah laporan diterima, simpan nomor tiket pengaduan untuk memantau perkembangan penanganan dan koordinasikan status dana bersama pihak bank.

8. Perkuat Keamanan Akun

Akun yang sudah berhasil dipulihkan belum tentu sepenuhnya aman. Aktifkan kembali lapisan keamanan tambahan, seperti:

  • Two-step verification (2FA)
  • Email pemulihan
  • Kunci biometrik
  • Kata sandi kuat yang unik di tiap layanan.

Cara mengamankan akun WhatsApp di atas akan membantu mengurangi risiko pengambilalihan akun di kemudian hari.

9. Gunakan Infrastruktur Komunikasi yang Lebih Aman untuk Bisnis

Semua langkah cara mengatasi penipuan WhatsApp di atas penting untuk dilakukan. Namun, untuk kebutuhan bisnis, Anda juga perlu mencegah hal itu terjadi.

Yang paling utama tentu mengubah WhatsApp personal menjadi bisnis. Alasannya, ada banyak fitur keamanan WhatsApp Business yang meminimalkan risiko menjadi korban penipuan.

Jika skala bisnis Anda semakin besar memanfaatkan WhatsApp Business API yang bisa membantu mengelola komunikasi lewat satu platform terpusat juga direkomendasikan.

Anda bisa mengatur hak akses, dasbor multi-agent tanpa bergantung pada satu perangkat, dan green tick sebagai identitas resmi agar pelanggan mudah membedakan akun asli dari penipuan.

WhatsApp Business API resmi dari Jatis Mobile

Dampak Fatal Serangan Phishing WhatsApp Terhadap Reputasi Bisnis

Lalu, apa saja dampak serangan phising WhatsApp yang bisa mempengaruhi reputasi bisnis?

1. Ketidakpercayaan pada Komunikasi Internal

Seperti pada contoh penipuan WhatsApp pada INOX, pembajakan akun direktur, manajer, atau staf keuangan bisa membuat instruksi pembayaran palsu terlihat sah.

Jika terjadi, hal ini berpotensi menyebabkan kerugian finansial dan membuat kepercayaan pada proses internal terganggu.

2. Menurunnya Kepercayaan Pelanggan

Jika peretas bisa menyamar sebagai tim CS untuk meminta OTP, data pribadi, atau pembayaran, dampaknya pada kredibilitas bisnis bisa besar.

Mereka akan menganggap bahwa keamanan bisnis Anda tidak dapat diandalkan.

3. Mengganggu Proses Bisnis

Dengan menguasai akun, pelaku penipuan bisa melakukan apa saja. Mengirim invoice palsu, atau lampiran berbahaya kepada vendor dan rekan bisnis.

Mereka yang mendapat serangan akan juga menjadi korban dari penipuan chat WhatsApp itu. Akibatnya bisa ke proses bisnis dan kepercayaan rekan bisnis pada sistem yang Anda gunakan.

4. Konsekuensi Hukum

Dampak dari chat penipuan WhatsApp bisa cukup serius. Mulai dari dampak hukum terkait data pelanggan, hingga konsekuensi finansial yang harus ditanggung.

Di Eropa, ada aturan GDPR. Di Indonesia, ada  UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Pelanggaran tersebut dapat berujung pada:

  • Denda administratif
  • Penghentian sementara pemrosesan data
  • Kewajiban menghapus data pribadi tertentu
  • Sanksi pidana sesuai ketentuan yang berlaku

5. Dampak Berlapis yang Merugikan

Kasus penipuan miliaran rupiah membuktikan dampak phishing WhatsApp tak sekadar hilangnya dana. Investor, mitra, dan pelanggan bisa meragukan sistem bisnis Anda pasca-insiden.

Risiko pun meningkat jika akun WhatsApp dianggap spam setelah diambil alih. Rusaknya reputasi akun resmi akan mempersulit komunikasi bisnis dengan pelanggan di kemudian hari.

FAQ Seputar Chat Penipuan di WhatsApp

Ini dia beberapa pertanyaan tentang chat penipuan di WhatsApp sering muncul di kalangan pengguna.

Apakah pelaporan ke IASC OJK dikenakan biaya?

Tidak. Layanan pelaporan IASC gratis. IASC adalah forum resmi OJK yang membantu masyarakat dan pelaku bisnis melaporkan penipuan serta mempercepat koordinasi pemblokiran rekening.

Mengapa penipu bisa mengambil alih WhatsApp tanpa kode OTP?

Akun bisa diambil alih lewat session hijacking akibat malware atau zero-click exploit. Teknik ini mencuri token autentikasi aktif, jadi pelaku tidak perlu lagi minta kode OTP.

Apakah data chat terenkripsi End-to-End masih bisa bocor?

Enkripsi end-to-end melindungi isi chat saat pengiriman. Kebocoran tetap bisa terjadi jika perangkat dikuasai pelaku atau cadangan cloud belum memakai fitur Encrypted Backup.

Berapa lama akun WhatsApp yang dideaktivasi bisa diaktifkan kembali?

Proses deaktivasi berlangsung segera setelah permintaan diproses. Deaktivasi langsung diproses. Anda memiliki waktu 30 hari untuk registrasi ulang via SMS OTP sebelum akun dihapus permanen.

Bagaimana memastikan pesan tagihan vendor bukan penipuan?

Lakukan verifikasi lewat dua jalur komunikasi. Jangan langsung percaya perubahan nomor rekening via chat. Hubungi nomor resmi vendor atau pastikan akun bisnis punya centang hijau sebagai identitas resmi perusahaan.

Lindungi Bisnis dari Chat Penipuan WhatsApp

Chat penipuan WhatsApp tidak bisa dianggap remeh. Dampaknya bisa menjadi ancaman bagi pengguna personal, lebih-lebih pemilik bisnis.

Itulah alasan kenapa WhatsApp Business direkomendasikan untuk Anda yang menjalankan bisnis dengan channel WhatsApp. Sebab, keamanannya lebih ditingkatkan.

Bahkan, untuk kebutuhan yang lebih banyak dengan skala bisnis lebih besar atau enterprise, WhatsApp Business API paling direkomendasikan. Salah satunya, layanan dari Jatis Mobile.

Keunggulannya bukan hanya dalam hal keamanan, tapi juga operasional bisnis. Mulai dari dasbor terpusat, sistem terintegrasi dan kemudahan untuk menjalankan promosi bisnis. Tertarik?