Masih ingat adegan Will Smith di The Pursuit of Happyness yang menelepon calon klien tanpa henti? Begitulah cold calling: penuh penolakan, tapi tetap jadi cara jitu membuka peluang bisnis.
Dalam konteks B2B, tantangannya bahkan lebih besar karena keputusan pembelian sering melibatkan banyak pihak.
Kabar baiknya, tantangan ini bisa diatasi dengan persiapan tepat. Simak pengertian cold calling, cara menyiapkan dan menjalankan panggilan, serta tindak lanjutnya di artikel ini.
Apa Itu Cold Calling?

Cold calling adalah panggilan penjualan ke calon pelanggan yang belum pernah berinteraksi dengan bisnis Anda.
Disebut cold atau dingin, karena prospek sama sekali belum kenal Anda. Ini adalah pendekatan outbound di awal, saat tim sales aktif mencari prospek alih-alih menunggu mereka datang.
Lalu, apa bedanya cold calling dan warm calling?
Warm calling ditujukan ke prospek yang sudah punya interaksi. Pernah bertanya, mengisi formulir, atau merespons kampanye. Karena sudah ada konteks, percakapannya lebih mudah dimulai.
Tidak semua panggilan keluar merupakan cold calling. Menelepon untuk perpanjangan layanan atau menawarkan produk baru ke pelanggan lama tentu bukan cold calling,.
Bayangkan seorang sales perusahaan software penggajian menelepon manajer HR di pabrik berkapasitas 300 karyawan.
Keduanya belum pernah ngobrol. Tapi, sang sales tahu perusahaan manufaktur sering kewalahan merekap lembur secara manual.
Dari contoh ini, tujuan panggilan pertama bukanlah langsung jualan. Yang mau dicapai adalah membuka percakapan, memahami kebutuhan prospek, dan menyepakati langkah berikutnya.
Kenapa Bisnis Masih Melakukan Cold Calling?

Di tengah banyaknya channel digital, telepon tetap memiliki peran vital dalam strategi outbound B2B. Bukan karena selalu lebih efektif, tetapi karena perannya berbeda dari channel lain.
1. Menjangkau Pengambil Keputusan
Dalam penjualan B2B, keputusan pembelian sering berada di tangan pihak eksekutif atau pemangku kepentingan kunci. Email dari pengirim yang belum dikenal bisa dengan mudah terlewat di antara puluhan pesan lain.
Telepon menjadi salah satu cara paling efektif untuk terhubung langsung dengan pengambil keputusan yang sesuai dengan kriteria target akun Anda.
2. Membuka Dialog Langsung
Berbeda dengan pesan tertulis, telepon memungkinkan percakapan dua arah secara real time. Sales bisa langsung bertanya, mendengar jawaban, lalu menyesuaikan arah pembicaraan.
Dari percakapan ini, sales juga bisa menilai apakah prospek memang cocok dengan solusi yang ditawarkan.
3. Melengkapi Jangkauan Kanal Digital
Email cocok untuk menyampaikan informasi yang perlu dibaca dengan tenang. Namun, email tidak bisa menangkap keraguan atau pertanyaan yang muncul saat itu juga.
Di sinilah percakapan langsung melengkapi pendekatan digital. Telepon membantu menjelaskan hal yang sulit disampaikan lewat tulisan, terutama saat prospek membutuhkan penjelasan mendalam melebihi informasi pada brosur.
4. Mendukung Proses Penjualan B2B yang Kompleks
Solusi B2B sering melibatkan banyak pihak, dari pengguna harian hingga pemberi persetujuan anggaran. Percakapan awal membantu sales mengenali siapa saja yang terlibat dan kebutuhan apa yang paling mendesak.
Informasi ini berguna untuk menentukan apakah prospek memerlukan sesi demo, presentasi, atau diskusi lanjutan. Meski begitu, panggilan awal tidak otomatis mempercepat siklus penjualan.
5. Mendapatkan Nilai dari Persiapan dan Tindak Lanjut
Cold calling memberi hasil terbaik saat didukung riset yang matang dan tindak lanjut yang relevan. Tanpa keduanya, panggilan mudah berakhir sebagai interupsi yang tidak diingat prospek.
Persiapan membantu sales membuka percakapan dengan konteks yang tepat. Tindak lanjut memastikan minat yang muncul saat panggilan tidak hilang begitu saja.
Bagaimana Cara Melakukan Cold Calling?
Cara melakukan cold calling yang efektif mengikuti urutan yang jelas, mulai dari memilih prospek hingga mencatat hasil panggilan. Berikut langkah-langkahnya:
1. Tentukan Calon Pelanggan yang Tepat

Mulailah dari ideal customer profile (ICP), yaitu gambaran perusahaan yang paling cocok dengan solusi Anda. Tentukan industri, skala bisnis, dan masalah yang ingin diselesaikan.
Setelah itu, tentukan peran yang perlu dihubungi, seperti manajer operasional atau kepala keuangan. Daftar kontak yang luas tanpa kriteria hanya akan menghabiskan waktu tim sales.
2. Periksa Sumber Data dan Aturan Komunikasi
Catat dari mana setiap data kontak berasal, entah dari situs perusahaan, LinkedIn, event, atau database internal. Catatan ini penting jika prospek menanyakan dari mana Anda mendapat nomornya.
Periksa juga ketentuan perlindungan data dan komunikasi yang berlaku sebelum menghubungi prospek. Aturan untuk panggilan manual bisa berbeda dengan tindak lanjut otomatis atau pesan WhatsApp, jadi pastikan setiap channel mengikuti ketentuannya masing-masing.
3. Siapkan Pembuka Panggilan
Detik-detik awal panggilan menentukan apakah prospek mau mendengarkan. Susun pembuka dengan urutan berikut: perkenalkan nama, sebutkan perusahaan, jelaskan tujuan panggilan, lalu minta izin untuk melanjutkan.
Berikut contoh script cold calling singkat untuk konteks B2B:
> “Selamat pagi, Pak Andi. Saya Rina dari [Nama Perusahaan]. Saya menghubungi Bapak karena banyak tim HR di industri manufaktur yang masih merekap jam lembur secara manual. Boleh saya minta dua menit untuk menjelaskan alasannya?”
4. Gali Masalah dan Kebutuhan Prospek

Jika prospek bersedia melanjutkan, ajukan pertanyaan terbuka sebelum menawarkan solusi. Tujuannya adalah memahami kendala, dampaknya, dan kebutuhan mereka.
Beberapa pertanyaan discovery yang bisa digunakan:
- “Bagaimana proses rekap lembur di tim Anda saat ini?”
- “Kendala apa yang paling sering muncul setiap akhir bulan?”
- “Seberapa besar dampaknya bagi tim dan karyawan?”
Jika prospek ingin melanjutkan komunikasi lewat WhatsApp, pastikan hal itu memang pilihan mereka dan dilakukan sesuai aturan komunikasi yang berlaku.
5. Sepakati Langkah Berikutnya
Akhiri panggilan dengan langkah yang jelas, seperti konsultasi atau demo singkat. Tawarkan pilihan waktu, lalu biarkan prospek menentukan yang paling sesuai.
Sepakati juga channel tindak lanjutnya. Jika prospek setuju dihubungi lewat WhatsApp, Anda bisa memanfaatkan WhatsApp Business Platform untuk mengirim jadwal dan materi pendukung.
6. Catat Hasil dan Hormati Permintaan Berhenti
Setelah panggilan selesai, catat semua informasi penting pada sistem CRM: mulai dari kebutuhan prospek, poin keberatan, pihak yang bertanggung jawab, hingga jadwal tindak lanjut.
Jika prospek meminta untuk tidak dihubungi lagi, catat permintaan tersebut dan hormati keputusannya. Langkah ini menjaga reputasi bisnis sekaligus menghindarkan tim dari panggilan berulang yang tidak diinginkan.
Apa Saja Tips Menjalankan Cold Calling untuk Prospek Baru?
Langkah di atas akan lebih efektif jika didukung strategi cold calling yang tepat. Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan:
1. Lakukan Riset Prospek secara Terarah

Sebelum mengangkat telepon, luangkan waktu 2 hingga 3 menit untuk mengumpulkan konteks dasar mengenai prospek:
- Latar belakang prospek dan perusahaan: Cari tahu peran atau jabatan prospek, skala bisnis perusahaannya, serta perkembangan terbaru di industri mereka, misalnya melalui akun LinkedIn atau situs resmi perusahaan.
- Tantangan industri yang relevan: Identifikasi masalah umum yang sering dihadapi oleh posisi tersebut di industri mereka.
- Poin common ground: Perhatikan apakah ada koneksi yang sama, event bisnis yang pernah diikuti, atau kutipan wawancara terbaru yang bisa dijadikan bahan pembuka.
Informasi singkat ini membantu Anda menyusun sudut pandang panggilan yang spesifik, sehingga prospek merasa dihubungi karena alasan bisnis yang relevan, bukan sekadar nomor acak dalam daftar telemarketing.
2. Buat Pembuka yang Ringkas dan Relevan
Prospek B2B umumnya memiliki jadwal yang padat. Oleh karena itu, 10 hingga 15 detik pertama sangat menentukan apakah percakapan akan berlanjut atau langsung diputus:
- Sampaikan identitas dan konteks secara langsung. Sebutkan nama, nama perusahaan, serta alasan utama Anda menghubungi mereka tanpa basa-basi yang berlebihan.
- Hubungkan dengan masalah relevan. Kaitkan tujuan panggilan dengan tantangan umum yang relevan bagi peran prospek.
- Minta izin singkat untuk melanjutkan diskusi. Berikan ruang kontrol kepada prospek dengan meminta izin waktu yang terukur, misalnya 1 atau 2 menit saja.
- Fokus pada relevansi, bukan fitur. Hindari langsung mengobral fitur produk atau melakukan hard selling di detik-detik awal.
Pembuka yang lugas dan terstruktur menunjukkan profesionalisme serta membuktikan bahwa Anda menghargai waktu berharga prospek.
3. Tanggapi Keberatan tanpa Menekan
Penolakan adalah bagian dari cold calling. Analisis terhadap 159 panggilan B2B menunjukkan prospek biasanya menolak dengan dua cara.
Ada yang langsung menghentikan pembicaraan, seperti “Kami sudah punya vendor“, dan ada yang menunda, seperti “Telepon lagi minggu depan” atau “Kirim saja lewat email“.
Memahami jenis penolakan ini membantu Anda memilih respons yang tepat untuk setiap situasi:
- Prospek sedang sibuk: Tanyakan waktu yang lebih sesuai untuk menelepon kembali.
- Belum membutuhkan solusi: Akui jawabannya, lalu tanyakan apakah boleh menghubungi lagi jika situasinya berubah.
- Sudah memakai vendor lain: Tanyakan aspek apa yang mereka sukai atau ingin ditingkatkan dari solusi saat ini.
- Meminta informasi lewat email: Kirim materi yang relevan dan sepakati waktu untuk membahasnya.
- Menolak dihubungi: Ucapkan terima kasih, akhiri panggilan, dan catat permintaannya.
Apa pun keberatannya, tujuan Anda adalah memahami posisi prospek, bukan memaksanya berubah pikiran.
4. Sesuaikan Waktu Panggilan dengan Audiens

Tidak ada jam yang pasti terbaik untuk semua prospek. Waktu yang tepat bergantung pada zona waktu, industri, dan pola kerja calon pelanggan.
Pemilik restoran mungkin sulit dihubungi saat jam makan siang, sedangkan manajer kantor lebih mudah dihubungi di luar jam rapat. Uji beberapa waktu, lalu catat mana yang paling sering mendapat respons.
5. Padukan Panggilan dengan Tindak Lanjut Lintas Kanal
Telepon jarang bekerja sendirian. Dalam urutan outbound yang terkoordinasi, panggilan bisa disusul oleh email berisi materi, sapaan di LinkedIn, atau pesan WhatsApp sesuai persetujuan prospek.
Agar riwayat percakapan tidak tercecer, banyak tim mengelola berbagai channel lewat pendekatan WhatsApp Omnichannel.
Untuk pertanyaan dasar yang sering muncul setelah panggilan, omnichannel chatbot bisa membantu memberi jawaban awal. Integrasi berbagai channel ini umumnya didukung teknologi CPaaS.
6. Gunakan Kanal Blast untuk Audiens yang Sesuai
Cold calling bersifat personal, yaitu satu sales berbicara dengan satu prospek. Pesan blast bekerja dengan cara berbeda, karena satu pesan dikirim ke banyak penerima sekaligus.
Karena itu, aplikasi WA Blast lebih cocok untuk audiens yang sudah memberi izin, seperti pelanggan atau peserta event. Pendekatan ini melengkapi cold calling, bukan menggantikannya.
7. Bedakan Peran Telepon dan Email
Perdebatan cold calling vs cold email sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi, dan pilihan channel dapat disesuaikan dengan kondisi prospek:
| Kriteriaa | Telepon | |
| Kompleksitas solusi | Solusi yang butuh penjelasan dan tanya jawab | Informasi yang bisa dipahami lewat tulisan |
| Kesiapan prospek | Prospek yang perlu digali kebutuhannya | Prospek yang sudah tahu apa yang dicari |
| Tujuan komunikasi | Membuka percakapan dan discovery | Mengirim rincian, materi, atau proposal formal |
Dalam praktiknya, keduanya sering dipakai berurutan. Telepon membuka percakapan, lalu email mengirimkan rincian yang sudah dibahas.
FAQ Seputar Cold Calling
Berikut beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan seputar cold calling
Apakah panggilan pertama harus menghasilkan penjualan?
Tidak. Dalam penjualan B2B kompleks, tujuan awal cold calling adalah membangun kesan baik, menggali masalah, dan kualifikasi kebutuhan prospek. Adanya hasil transaksi merupakan bonus.
Berapa kali perlu melakukan tindak lanjut?
Outbound sales B2B rata-rata membutuhkan 4-6 kali tindak lanjut lintas kanal, tergantung respons prospek dan kompleksitas penawaran.
Yang penting, jaga jarak antar-kontak agar tidak terkesan memaksa, dan segera hentikan jika prospek meminta untuk tidak dihubungi lagi.
Apa yang dilakukan jika calon pelanggan menolak?
Sambut penolakan secara profesional, tanyakan alasan singkatnya untuk bahan evaluasi jika memungkinkan, lalu tutup pembicaraan dengan sopan.
Segera perbarui status kontak pada sistem CRM dan masukkan ke daftar supresi agar nomor tidak dihubungi kembali.
Bolehkah langsung beralih ke WhatsApp setelah menelepon?
Boleh, asalkan prospek memberi persetujuan lisan saat panggilan. Jadi, ketika Anda melakukan pengiriman proposal, atau penentuan jadwal terasa lebih relevan dan tidak dianggap spam.
Siap Menjalankan Cold Calling Sesuai Tujuan Bisnis?
Cold calling masih menjadi strategi komunikasi pelanggan yang layak dipertimbangkan, baik untuk tujuan meningkatkan penjualan produk maupun mengenalkan brand bisnis.
Jadi, meskipun Anda sudah menjalankan email marketing, WhatsApp blast, atau SMS broadcast, mencoba upaya cold calling bisa menjadi rencana Anda berikutnya.
Yang penting, selalu mulai dengan data riset, melakukan testing sebelum menjalankan skala besar dan memilih sistem yang terintegrasi untuk evaluasi lebih lanjut.
Masih bingung menentukan channel tindak lanjut yang tepat? Pelajari solusi WhatsApp Business Platform dari Jatis Mobile dan diskusikan kebutuhan tim sales Anda bersama kami.

Erich is a results-oriented Marketing Leader with over 10 years of experience crafting compelling brand narratives and executing data-driven campaigns across B2B and B2C sectors. He’s also an expert in managing high-scale marketing budgets, by delivering up to 4x ROI, and driving billion-rupiah project acquisitions.


