Saat email pemasaran hanya muncul di inbox, prospek bisa saja melewatkannya. EDM marketing yang menghubungkan email dengan SMS, iklan, dan lainnya bisa menjadi solusi.
Pesan campaign dapat berlanjut di berbagai touchpoint agar lebih menempel di benak audiens.
Bagaimana cara merencanakan EDM campaign untuk nurturing, retention, atau re-engagement, dan apa perbedaannya dengan email blast? Artikel ini akan menjelaskannya lengkap.
Apa Itu EDM Marketing?

EDM marketing adalah strategi pemasaran berbasis data dengan email sebagai saluran utama, didukung oleh SMS, pesan instan, dan iklan.
Marketing dengan Electronic Direct Mail merupakan kombinasi yang membangun komunikasi terpadu di berbagai touchpoint tersebut.
Strategi ini berjalan sepenuhnya di atas database opt-in. Artinya, pesan hanya dikirim kepada audiens yang telah memberikan izin secara jelas dan bersedia dihubungi.
Jadi, sebuah EDM campaign tentunya merupakan sebuah kampanye yang targeted. Bahkan, setiap pesan biasanya dibuat dengan personalisasi yang jelas agar mendapatkan hasil yang diinginkan.
EDM marketing biasanya berfokus pada alur nurturing, retention, dan re-engagement. Intinya, mengolah prospek pasif menjadi pembeli, serta mendorong transaksi berulang dari pelanggan lama.
Bisnis fashion, misalnya, bisa mengirim email penawaran dengan pendekatan EDM marketing berupa koleksi terbaru hanya kepada pelanggan yang pernah membeli kategori serupa.
Ini menjadi salah satu cara untuk tidak terlalu fokus pada strategi email blast yang umumnya menjangkau audiens yang lebih luas, terutama dalam upaya acquisition (mencari pelanggan baru).
Menariknya, dengan banyaknya saluran, dimungkinkan adanya komunikasi lintas saluran otomatis.
Contohnya, jika email nurturing tidak dibuka dalam dua hari, sistem dapat memicu SMS pengingat atau menampilkan iklan retargeting yang relevan di media sosial.
EDM Marketing vs Email Marketing vs Email Blast
Ketiga istilah ini sering tertukar, padahal ada perbedaan mendasar seperti terlihat pada perbandingan berikut:
| Aspek | EDM Marketing | Email Marketing | Email Blast |
| Fokus | Campaign email tertarget untuk segmen opt-in tertentu | Program komunikasi email secara keseluruhan | Sekelompok penerima relevan untuk satu campaign tertentu |
| Cakupan | Segmen kontak opt-in yang relevan dengan campaign | Mencakup newsletter, lifecycle email, drip campaign, email blast, dan EDM campaign | Salah satu taktik dalam email marketing |
| Penerima | Bagian dari email marketing | Seluruh database kontak yang dikelola, dibagi sesuai program masing-masing | Satu pesan, dikirim dalam satu waktu |
| Pola Pengiriman | Bisa satu kali atau berkelanjutan, tergantung tujuan campaign | Berkelanjutan, mencakup berbagai jenis pengiriman sekaligus | Diukur dari performa satu kali pengiriman tersebut |
| Evaluasi Campaign | Diukur dari hasil campaign spesifik, sesuai tujuan nurturing, retention, atau re-engagement | Diukur secara menyeluruh lintas program, dari akuisisi sampai retensi |
Secara hierarki, email marketing adalah payung strategi yang menaungi berbagai aktivitas komunikasi seperti newsletter, lifecycle email, drip campaign, email blast, hingga campaign EDM.
Email blast adalah jenis campaign dengan pesan tunggal untuk banyak penerima sekaligus. Biasanya digunakan untuk pengumuman, promosi, atau update yang perlu segera diketahui audiens.
Drip campaign lebih menggunakan alur email terotomatisasi. Jenis strategi ini dapat mendukung efektivitas campaign EDM, meski tidak wajib digunakan untuk mencapai tujuannya.
Yang tak kalah penting, perlu dicatat bahwa elemen-elemen berikut bukan hanya milik EDM:
- Automation
- Personalisasi
- Retention
- LTV (lifetime value)
- Komunikasi multichannel
Kapan Bisnis Perlu Menggunakan Pendekatan EDM?

EDM marketing merupakan strategi untuk bisa menghasilkan revenue bagi bisnis. Namun, apakah Anda perlu menjalankannya? Empat kondisi berikut menjadi tandanya:
- Memiliki database pelanggan opt-in: EDM tepat digunakan jika Anda mengantongi izin komunikasi dari audiens alias opt-in dan bukan hasil scraping atau membeli data dari pihak lain. Jadi, informasi yang dikirim ke mail memang informasi yang dibutuhkan oleh daftar penerima.
- Memiliki tujuan komunikasi yang spesifik: Strategi ini cocok saat Anda ingin mengejar sasaran terukur, seperti meningkatkan retention, memicu re-engagement kontak pasif, atau menindaklanjuti minat transaksi yang sudah ada.
- Menyampaikan pesan tertentu ke segmen yang berbeda: EDM dibutuhkan saat komunikasi umum tidak lagi efektif. Manfaatkan first-party dan zero-party data untuk melakukan micro-segmentation, sehingga setiap segmen menerima pesan yang bermanfaat.
- Mengevaluasi campaign berdasarkan dampak bisnis: EDM siap diterapkan jika fokus pengukuran Anda sudah bergeser dari sekadar jumlah email yang terkirim ke metrik yang lebih substansial, seperti conversion rate dan Lifetime Value (LTV).
Jika semua situasi di atas bukan yang terjadi di bisnis Anda, penggunaan EDM marketing perlu dipertimbangkan kembali.
Dalam konteks email marketing B2B, mengirim pesan tanpa kesiapan hanya akan merusak reputasi dan mengurangi efektivitas komunikasi bisnis Anda.
Mengapa Bisnis Perlu Menggunakan EDM Marketing?

Selain soal waktu yang tepat, ada beberapa alasan lain kenapa EDM marketing layak dipertimbangkan:
- Kepemilikan owned channel yang mandiri: Bisnis dapat menjangkau audiens secara langsung tanpa bergantung pada perubahan algoritma platform pihak ketiga. Database opt-in menjadi aset komunikasi jangka panjang milik bisnis secara penuh.
- Optimalisasi nilai dari audiens yang sudah ada: Anda dapat memaksimalkan potensi prospek dan pelanggan lama melalui alur nurturing, retention, dan re-engagement. Pendekatan ini memperpanjang siklus hubungan pelanggan secara efisien.
- Kemudahan melakukan evaluasi dari data riil: Metrik seperti open rate, click-through rate, unsubscribe rate, hingga failed messages memberikan gambaran perilaku aktual audiens. Data ini memudahkan bisnis menyempurnakan strategi campaign berikutnya.
- Pelaksanaan campaign pemasaran yang lebih targeted: Penggunaan first-party data dan zero-party data memungkinkan penerapan micro-segmentation. Setiap segmen menerima pesan yang spesifik dan membawa nilai tambah (information gain).
- Penjagaan brand presence secara konsisten: Komunikasi terstruktur membantu mempertahankan posisi brand di ingatan audiens (top-of-mind). Interaksi yang teratur membangun kedekatan secara alami tanpa terkesan agresif.
- Kemudahan menguji pesan dan penawaran: Bisnis dapat mengevaluasi efektivitas variasi subject line, isi pesan, hingga elemen Call to Action (CTA). Pengujian ini membantu menentukan sudut pandang pemasaran yang paling diminati audiens.
- Perlindungan reputasi domain dan kepatuhan privasi: Penerapan dasar consent, transparansi data, dan ketersediaan opsi unsubscribe memastikan bisnis patuh pada regulasi seperti UU PDP. Langkah ini secara langsung menjaga domain reputation pengirim.
Cara Merencanakan dan Menjalankan EDM Campaign
Setelah menentukan platform, ini dia tujuh langkah yang bisa Anda ikuti untuk menyiapkan campaign.
1. Pilih Platform Email yang Sesuai
Cek dulu kebutuhan campaign sebelum menentukan tools email marketing yang akan digunakan.
Pastikan platform yang dipilih menyediakan fitur yang memang dibutuhkan, seperti segmentasi, personalisasi, automation, pengiriman, dan pelaporan.
Nah, Jatis Email Marketing bisa menjadi salah satu pilihan yang dievaluasi, dengan fitur seperti:
- Template interaktif atau kustom untuk campaign
- Pengelompokan kontak berdasarkan segmen audiens
- Pengiriman terjadwal
- Laporan campaign dalam satu dashboard

2. Tentukan Tujuan Campaign dan KPI
Tetapkan satu tujuan utama di awal, entah itu nurturing, retention, atau re-engagement, lalu tentukan metrik yang relevan untuk mengukurnya.
Jangan mengandalkan satu metrik sebagai ukuran keberhasilan. Sebagai contoh, open rate yang tinggi belum tentu menunjukkan campaign berhasil mencapai target transaksi ulang atau re-engagement.
3. Bangun dan Segmentasikan Daftar Opt-In
Mulai dengan melihat data yang tersedia dalam daftar kontak. Pilih data yang bisa membantu membentuk segmen sesuai tujuan campaign, misalnya:
- Riwayat transaksi: pelanggan baru, pelanggan lama, atau pelanggan yang sudah lama tidak bertransaksi
- Minat produk: kategori atau produk yang pernah dilihat maupun dibeli
- Tahap interaksi: calon pelanggan, pelanggan aktif, atau kontak yang sudah lama tidak berinteraksi
Pesan yang sama belum tentu sesuai untuk seluruh daftar. Segmentasi membuat isi dan penawaran bisa disesuaikan dengan kelompok penerima yang dituju.
4. Petakan Perjalanan Pesan
Tentukan urutan pesan, pemicu, waktu, dan frekuensi pengiriman apabila workflow seperti itu tersedia di platform dan memang dibutuhkan oleh campaign.
Rangkaian pesan lebih panjang baru diperlukan untuk campaign yang memang membutuhkan beberapa tahap komunikasi. Contohnya, promo dengan periode terbatas bisa dikirim sekali saja ke segmen penerima yang sesuai.
5. Siapkan Template dan Konten

Apa saja yang perlu disiapkan?
- Subject line: Buat singkat dan menggambarkan isi email.
- Value utama: Tentukan satu pesan atau manfaat yang ingin ditonjolkan.
- CTA: Arahkan penerima ke tindakan yang sesuai dengan tujuan campaign.
- Visual: Gunakan elemen visual yang mendukung pesan dan segmen penerima.
Konten yang personal dan relevan juga berperan dalam membangun kepercayaan penerima dari waktu ke waktu. Faktanya, 62% konsumen cenderung loyal pada brand yang mereka percaya, sementara 51% bersedia merekomendasikannya ke orang lain.
Trust semacam ini tidak terbentuk dari satu email, melainkan dari pengalaman komunikasi yang konsisten.
Setiap elemen template perlu disesuaikan dengan konteks penerima agar pesan tidak terasa sama untuk semua segmen.
6. Lakukan QA, Jadwalkan, dan Pantau Pengiriman
Periksa semua tautan, tampilan di berbagai perangkat, dan jadwal pengiriman sebelum campaign dijalankan.
Untuk email blast, pemantauan bisa dilakukan selama periode pengiriman dengan melihat sent, open, clicked, unsubscribed, dan failed messages.
EDM campaign yang berjalan dalam rangkaian lebih panjang perlu dipantau secara berkala agar perubahan performanya bisa terlihat dari satu campaign ke campaign berikutnya.
7. Analisis, Uji, dan Perbaiki Campaign Berikutnya
Gunakan hasil campaign untuk mengevaluasi pesan, segmen, dan jadwal yang perlu disesuaikan pada campaign berikutnya.
Coba bandingkan dua versi subject line atau CTA lewat A/B testing untuk melihat respons penerima. Hasilnya bisa menjadi acuan untuk menentukan apa yang perlu diubah di campaign berikutnya.
Bagaimana Jatis Email Marketing Mendukung Kebutuhan EDM
Setelah strategi disusun dengan langkah di atas, tim dapat langsung menjalankan pengiriman dan memantau hasil campaign dalam satu platform Jatis Email Marketing tanpa pindah sistem.
Laporan pasca-kirim yang tersedia meliputi:
- Sent: Email terkirim
- Open: Email dibuka
- Clicked: Jumlah klik
- Unsubscribed: Berhenti berlangganan
- Failed: Gagal terkirim
Data ini membantu mengukur respons dan pencapaian KPI. Bagi pengelola, platform ini mengurangi pekerjaan manual sekaligus menjaga kendali penuh atas isi, target, dan tujuan campaign.
Karena kebutuhan tiap bisnis berbeda, diskusikan terlebih dahulu kebutuhan campaign, jumlah kontak, frekuensi pengiriman, dan jenis laporan yang diinginkan bersama tim Jatis.
FAQ Seputar EDM Marketing
Ini beberapa pertanyaan yang paling sering muncul terkait dengan EDM marketing:
Apa itu EDM marketing?
EDM marketing adalah campaign email yang dikirim ke segmen kontak opt-in yang ditargetkan, dengan tujuan seperti lead nurturing atau retention dengan didukung channel lain seperti SMS.
Istilah SDM campaign kadang juga disamakan dengan email massal atau email marketing secara umum padahal berbeda.
Apa perbedaan EDM marketing dan email blast?
EDM marketing berfokus pada strategi pemasaran dengan segmen, tujuan, dan evaluasi tertentu. Email blast adalah strategi mengirim satu pesan ke banyak penerima sekaligus untuk campaign tunggal.
Apakah EDM marketing harus menggunakan automation?
Tidak, EDM marketing tidak harus menggunakan drip sequence atau automation. Satu campaign EDM bisa saja hanya merupakan pengiriman tunggal ke segmen tertarget.
Jadi, drip sequence atau automation bersifat opsional dan hanya untuk mendukung kebutuhan campaign.
Metrik apa yang perlu ditinjau dalam EDM campaign?
Metrik utama EDM campaign meliputi sent, open, click, unsubscribe, dan failed messages, yang pemilihannya bergantung pada tujuan campaign.
Pilih data yang paling relevan dengan tujuan tersebut untuk mengukur pencapaian target Anda.
Sudah Siap Menjalankan EDM Campaign?
EDM marketing merupakan strategi pemasaran yang menarik untuk dicoba, terutama jika bisnis Anda sudah memiliki daftar penerima yang opt-in untuk mendapat informasi dari Anda.
Ini bisa menjadi pendukung dari berbagai strategi email marketing Anda lainnya seperti newsletter, email blast. Yang penting, pastikan Anda menggunakan platform email marketing yang andal.
Ingin mendiskusikan kebutuhan EDM marketing untuk bisnis Anda? Pelajari layanan email marketing Jatis dan diskusikan kebutuhan campaign Anda bersama tim kami.

Erich is a results-oriented Marketing Leader with over 10 years of experience crafting compelling brand narratives and executing data-driven campaigns across B2B and B2C sectors. He’s also an expert in managing high-scale marketing budgets, by delivering up to 4x ROI, and driving billion-rupiah project acquisitions.


