Punya UMKM yang masih jalan di tempat meski sudah berjalan bertahun-tahun? Kondisi ini dialami banyak pelaku usaha, bukan karena produknya buruk, tetapi karena pemilik UMKM sering kali belum benar-benar paham masalah yang menghambat pertumbuhan bisnisnya.
Tanpa disadari, kendala seperti pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga operasional bisa saling berkaitan dan menahan laju usaha. Kabar baiknya, masalah tersebut bisa diatasi jika dikenali dengan tepat.
Yuk, kenali permasalahan UMKM serta solusinya dengan membaca artikel ini sampai akhir!
9 Permasalahan Umum UMKM di Indonesia dan Solusinya
Banyak UMKM menghadapi hambatan yang sebenarnya mirip satu sama lain, hanya saja sering tidak disadari.
Inilah beberapa masalah paling umum yang kerap menghambat pertumbuhan UMKM, lengkap dengan penjelasan dan solusi yang bisa diterapkan secara realistis.
1. FOMO dalam Menentukan Jenis Bisnis

Banyak pelaku UMKM memulai atau mengembangkan usaha karena ikut tren yang sedang ramai. Melihat kedai snack Korea viral, langsung ingin membuka usaha serupa. Melihat kelas online laris, langsung membuat kelas tanpa memahami pasar.
FOMO menjadi masalah umum karena informasi bisnis saat ini sangat cepat menyebar, terutama dari media sosial. Masalahnya, tren tidak selalu cocok dengan kemampuan, modal, dan target pasar Anda. Tanpa riset, bisnis berisiko sepi karena hanya bertahan selama tren berlangsung.
Solusinya, lakukan riset sederhana sebelum memutuskan. Pahami siapa target pasar Anda, apa masalah mereka, dan apakah produk yang ingin dibuat benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar sedang populer.
2. Berharap Bisnis Melejit dalam Semalam
Tidak sedikit pemilik UMKM yang berharap bisnisnya langsung ramai dalam hitungan minggu.
Harapan ini biasanya muncul karena melihat kisah sukses instan di internet. Padahal, yang sering terlihat hanya hasil akhirnya, bukan proses panjang di belakangnya.
Ekspektasi yang tidak realistis ini bisa membuat pemilik usaha cepat kecewa dan kehilangan semangat. Solusinya, ubah cara pandang. Bangun bisnis dengan target bertahap dan fokus pada perbaikan kecil yang konsisten.
Pertumbuhan yang sehat justru datang dari proses yang sabar dan terukur.
3. Mengandalkan Satu Kanal Promosi Saja

Banyak UMKM hanya mengandalkan satu media promosi, misalnya hanya Instagram atau marketplace.
Ketika performa kanal tersebut menurun, penjualan langsung ikut terdampak. Ini menjadi masalah umum karena pelaku UMKM ingin cara yang paling praktis dan cepat.
Padahal, promosi tidak harus selalu mahal dan rumit. WhatsApp marketing misalnya, bisa sangat efektif jika dikelola dengan baik. Bahkan promosi dari mulut ke mulut pun masih sangat kuat untuk UMKM.
Solusinya, kombinasikan beberapa kanal promosi agar bisnis tidak bergantung pada satu sumber saja.
4. Melupakan Pentingnya Konsistensi
Banyak UMKM sangat aktif saat launching atau promo besar, lalu menghilang setelahnya.
Akun media sosial jarang update, komunikasi dengan pelanggan terputus, dan brand terasa tidak hidup. Ini masalah umum karena fokus sering hanya pada mendapatkan pelanggan pertama.
Padahal, pelanggan setia sama pentingnya dengan pelanggan baru. Konsistensi membangun kepercayaan dan kedekatan.
Solusinya, buat jadwal sederhana untuk promosi dan komunikasi. Tidak perlu sering, yang penting rutin dan relevan agar bisnis tetap diingat.
5. Tidak Memiliki Pengetahuan Finansial yang Cukup

Masalah klasik UMKM adalah keuangan yang tercampur antara pribadi dan bisnis. Banyak pelaku usaha tidak mencatat arus kas dengan rapi, sehingga tidak tahu apakah bisnis benar-benar untung atau tidak. Ini sering terjadi karena merasa bisnis masih kecil.
Justru karena masih UMKM, pencatatan keuangan sangat penting. Tanpa data yang jelas, keputusan bisnis jadi berbasis perasaan.
Solusinya, mulai dari hal sederhana. Catat pemasukan dan pengeluaran harian, pisahkan rekening, dan pahami kondisi kas agar bisnis bisa berkembang dengan sehat.
6. Tidak Ada Pembeda dengan Pengusaha Lain
Banyak UMKM menjual produk yang sama dengan kompetitor, dengan harga dan cara promosi yang mirip.
Akibatnya, calon pelanggan tidak punya alasan kuat untuk memilih bisnis Anda. Ini masalah umum karena pelaku usaha sering fokus meniru yang sudah ada.
Solusinya, cari keunikan sekecil apa pun. Bisa dari pelayanan, kemasan, cerita brand, atau cara berkomunikasi dengan pelanggan. Pembeda tidak harus rumit, yang penting relevan dan konsisten sehingga mudah diingat.
7. Menyepelekan Kekuatan WhatsApp

Masih banyak UMKM yang menggunakan WhatsApp hanya untuk membalas chat, bukan sebagai alat pemasaran.
Padahal, platform ini sangat dekat dengan keseharian konsumen Indonesia. Masalah ini muncul karena kurangnya pemahaman tentang potensinya.
Dengan menggunakan WhatsApp bisnis, Anda bisa tampil lebih profesional. Promosi via WhatsApp bisa dilakukan secara personal tanpa terasa mengganggu. Salah satu hal yang patut Anda coba sebagai pemilik UMKM adalah membuat toko di WA.
Ada banyak fitur yang bisa Anda manfaatkan tanpa perlu effort terlalu rumit. Anda bisa membuat katalog produk Anda, misalnya. Atau berjualan di WA story untuk menjaga interaksi dengan pelanggan.
Anda juga bisa mengirim template broadcast promosi di waktu spesial, misal menjelang Hari Idul Fitri atau Natal.
Agar lebih maksimal, tautkan WhatsApp ke media sosial dan cantumkan di Google Business Profile. Banyak konsumen lebih percaya ulasan di Google karena dianggap jujur dan transparan. Ini bisa meningkatkan kepercayaan terhadap bisnis Anda.
8. Buru-Buru Menutup Usaha Saat Dinilai Tidak Profit

Ketika penjualan menurun atau keuntungan terasa kecil, sebagian UMKM langsung berpikir untuk menutup usaha. Masalah ini umum terjadi karena tekanan finansial dan ekspektasi hasil yang terlalu cepat. Padahal, belum tentu bisnisnya gagal.
Sering kali yang dibutuhkan hanyalah evaluasi dan penyesuaian strategi. Solusinya, analisis dulu penyebabnya. Apakah karena harga, promosi, produk, atau target pasar.
Dengan perbaikan yang tepat, bisnis masih punya peluang untuk bangkit.
9. Tidak Memanfaatkan Data dalam Pengambilan Keputusan
Banyak UMKM menjalankan bisnis tanpa melihat data. Padahal, data sederhana seperti produk terlaris, jam penjualan paling ramai, atau jenis pelanggan yang paling sering membeli sangat berharga.
Masalah ini muncul karena data dianggap rumit dan tidak penting.
Tanpa data, keputusan bisnis hanya berdasarkan asumsi. Solusinya, manfaatkan data yang sudah ada, baik dari catatan penjualan, media sosial, maupun chat pelanggan. Dengan data, Anda bisa menentukan strategi yang lebih tepat dan efisien.
Cegah Berbagai Masalah di Bisnis Anda dengan WhatsApp Business API!

Berbagai masalah UMKM yang sudah dibahas sebelumnya sebenarnya bisa dicegah sejak awal jika Anda memanfaatkan teknologi yang tepat. Salah satunya dengan menggunakan WhatsApp Business API.
Untuk UMKM, kanal ini sangat relevan karena mayoritas pelanggan datang dari WhatsApp, rekomendasi mulut ke mulut, dan orang-orang di sekitar lokasi usaha. Melalui WhatsApp Business API, komunikasi dengan pelanggan jadi lebih rapi, cepat, dan profesional.
Anda bisa mengelola pesan dalam jumlah besar, menggunakan pesan otomatis, serta menjaga respons tetap konsisten tanpa harus kewalahan. Tentu saja, pastikan Anda memilih BSP WhatsApp API terpercaya agar bisnis tetap aman dan sesuai regulasi.
Sebagai penyedia WhatsApp API resmi, Jatis Mobile membantu UMKM memaksimalkan potensi WhatsApp sebagai kanal utama penjualan dan layanan pelanggan. Mulai dari mengelola percakapan, meningkatkan kepercayaan pelanggan, hingga mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Ingat, meski masih UMKM, justru kedekatan dengan pelanggan lokal adalah kekuatan utama. Dengan solusi yang tepat, potensi tersebut bisa diolah menjadi peluang besar untuk bisnis Anda.
Kesimpulan
Bila Anda berniat memulai atau mengembangkan UMKM dalam waktu dekat, ini saat yang tepat untuk mempelajari masalah-masalah di atas dan solusinya dengan saksama.
Tertarik mengoptimalkan UMKM Anda dengan WhatsApp bisnis resmi? Hubungi Jatis Mobile. Kami siap membantu usaha Anda, mulai dari skala kecil hingga besar.



